illustrasi

illustrasi

kupasbengkulu.com, bengkulu – Para petani di Provinsi Bengkulu tampaknya masih kurang tertarik untuk menjual hasil produksi padi kepada Bulog. Pasalnya, Bulog Divre Bengkulu hingga saat ini masih kesulitan dalam pemenuhan serapan beras lokal untuk dijadikan stok nasional. “

Kepala Bulog Divre Bengkulu, Sugeng Rahayu, mengatakan dari target pemenuhan kebutuhan masyarakat se Propinsi Bengkulu yang mencapai 22 ribu ton pertahun, sekitar 75 persen harus didatangkan dari luar Bengkulu. Padahal, potensi areal pertanian persawahan yang ada dalam wilayah Provinsi Bengkulu mencapai 104 ribu hektar lebih, dan bisa ditanami padi.

“Hambatan Bulog dalam pemenuhan serapan beras lokal tersebut salah satunya karena harga beli pemerintah masih di bawah harga pasar,” ujar Sugeng, Kamis (06/08/2015).

“Kemudian untuk daerah-daerah dengan status masih sebagai Gudang Bulog mengharuskan langsung ke Bulog Divre di Kota Bengkulu kalau ingin menjadi mitra kerja. Secara tidak langsung telah menambah biaya operasionalnya dan harga beras yang kita beli juga ikut naik,” tambahnya.

Disamping itu menurutnya kondisi petani dan penggilingan relatif masih kecil, sehingga apabila ada beras sekitar 1 hingga 2 ton, petani langsung menjual kepada pihak ketiga. Kemudian kelemahan lain dalam pemenuhan serapan beras lokal berada di Satgas yang bekerja harus mengeluarkan biaya tinggi, dan belum pasti mendapatkan beras lokal. Bahkan jika pun ada, terpaksa harus membeli di atas harga ketetapan pemerintah.

“Skala petani dan mitra kerja Bulog masih kecil, sehingga dalam penyerapan beras lokal juga kecil. Namun kami berjanji, dengan berbagai kendala tersebut akan berupaya maksimal untuk mencarikan solusi bersama dan menyampaikan masalah ini ke Pemerintah Pusat melalui lembaga legislaf,” pungkasnya.(val)