KUPAS BENGKULU – Di pusat Kota Bengkulu, di Jalan KZ Abidin 1 yang selama ini ramai oleh langkah kaki dan suara tawar-menawar, pagi itu terasa sedikit berbeda.

Bukan karena sepi…

tapi karena ada perubahan yang berjalan tanpa gaduh.

Relokasi pedagang kaki lima, sesuatu yang selama ini terdengar sulit, justru terjadi dengan cara yang lembut.

KERAMAHAN : Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi, duduk bersama PKL dan sarapan Lontong 

Seperti angin yang tidak terlihat, tapi terasa menyentuh kulit.

Sepanjang sejarah kepemimpinan walikota di Bengkulu, jarang — bahkan belum pernah — para pedagang kaki lima dengan sukarela bersedia dipindahkan.

Namun kali ini, demi mendukung program Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi untuk menciptakan kota yang bersih, tertata, dan indah, para pedagang memilih melangkah bersama, bukan dipaksa… tapi diajak.

Puluhan pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di trotoar kawasan Suprapto, kini perlahan memindahkan harapannya ke dalam Gedung Pasar Tradisional Modern, yang dulu dikenal sebagai Pasar Minggu.

Bagi sebagian orang, ini hanya perpindahan tempat.

Namun bagi mereka, ini adalah perpindahan cerita… dari tepi jalan menuju ruang yang lebih pasti.

Pagi Jumat yang berkah itu, kehangatan terasa bukan hanya dari matahari yang mulai meninggi, tetapi juga dari senyum dan sapaan.

Walikota Dedy Wahyudi bersama Wakil Walikota Ronny PL Tobing dan jajaran OPD hadir bukan sekadar melihat, tetapi menyatu.

Sarapan lontong, gorengan hangat, dan kopi hitam khas Bengkulu menjadi saksi bahwa kebijakan tak selalu harus kaku — kadang cukup duduk bersama, mendengar, dan saling menghargai.

Ardius Geong, koordinator PKL KZ Abidin 1, bercerita bahwa mereka telah puluhan tahun berdagang di sana, bahkan sebelum mall dan gedung PTM berdiri.

Trotoar bukan sekadar tempat jualan, tapi saksi perjuangan hidup.

Namun waktu mengajarkan satu hal… bahwa bertahan bukan selalu berarti diam, kadang bertahan justru berarti berani berubah.

Dulu, berpindah ke dalam PTM terasa berat.

Empat kali pergantian walikota, dan keputusan itu tak kunjung terjadi.

Namun di era kepemimpinan sekarang, langkah itu akhirnya diambil dengan hati terbuka.

Bukan karena tekanan, tapi karena kepercayaan.

Bak gayung bersambut, keramahan pedagang dibalas dengan sikap santun dan pengayoman.

ANGKAT BARANG: Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi dan Wakil Walikota Ronny PL Tobing, bantu pedagang angkat barang ke PTM

Walikota dan wakilnya ikut mengangkat barang, membantu mengemas dagangan, memindahkan satu demi satu harapan ke dalam ruko PTM.

Keringat yang jatuh di pagi hari bukan sekadar lelah, tapi tanda bahwa pemimpin juga bisa turun tangan, bukan hanya memberi arahan.

Terik matahari Jumat itu seolah menjadi saksi, bahwa membangun kota bukan hanya soal beton dan gedung, tapi tentang manusia dan rasa saling percaya.

Dan ketika Walikota menegaskan bahwa para pedagang akan digratiskan selama tiga bulan, itu bukan hanya kebijakan ekonomi —

melainkan pesan sederhana bahwa perubahan akan terasa ringan jika dijalani bersama.

Karena pada akhirnya, kota bukan hanya tempat tinggal.

Ia adalah rumah besar,

di mana pemerintah dan rakyat berjalan berdampingan,

bukan saling mendahului…

melainkan saling menunggu agar tak ada yang tertinggal.[ipulpekal]