Logo Bengkulu

Logo Bengkulu

Oleh Firmansyah*

Warga Bengkulu

Pak Presiden Joko Widodo, selamat datang di Bengkulu, inilah kota/kampung/dan tempat yang kami cintai bersama dengan NKRI. Kampung kami ini, saya percaya kaya, panjang pantai kami 525 kilometer, belum di tambah Pulau Enggano yang kaya akan hasil laut itu.

(terkait: Bahas Program Kemaritiman, Jokowi Sambangi Bumi Rafflesia)

Pertumbuhan ekonomi kami cukup tinggi 7,83 persen di atas rata-rata nasional namun kemiskinan juga ikut tinggi mencapai 17 persen, juga di atas rata-rata nasional.

“Kok tidak seimbang ya antara pertumbuhan ekonomi dengan jumlah kemiskinan,” celetuk seorang teman yang sama dengan ku tak pandai membaca angka statistik.

Pak Presiden, meski angka kadang membosankan namun itu muncul dari sebuah perhitungan dan fakta lapangan yang bisa dipertanggungjawabkan secara kelimuwan.

Petinggi Bank Indonesia sekali waktu dalam beberapa forum ekonomi daerah menyebutkan ketimpangan ini muncul akibat pola konsumsi dan transaksi masyarakat Bengkulu cukup tinggi. Beberapa daerah di Bengkulu diyakini sebagai kantong petani tajir dari perkebunan, seperti Bengkulu Utara.

Angka tersebut disokong juga dengan perbaikan taraf hidup PNS dengan berlakukanya sistem remunerasi di beberapa instansi. Sehingga tak aneh jika mal, pusat perbelanjaan, kredit barang, selalu ramai dikunjungi warga Bengkulu.

Selanjutnya, urusan kredit mobil Bengkulu juga cukup tinggi, beberapa kawan bekerja di perusahaan perkreditan dan dealer mengatakan, dalam satu bulan diperkirakan 250 unit terjual, sementara motor berkisar dangka 800 unit. Jika kepemilikan merupakan ukuran indikator kemajuan ekonomi, Bengkulu pasti tak kalah. dengan jumlah penduduk sekitar dua juta lebih.

Tapi ada kabar sedihnya untuk urusan jual beli mobil dan motor, Kepala Seksi Pelayanan Umum Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia, Provinsi Bengkulu, Nelly Sinarti mensinyalir negara mengalami kerugian miliaran rupiah akibat tidak patuhnya beberapa perusahaan mobil dan motor dalam membayar jaminan fidusia kendaraan atau mesin.

(http://regional.kompas.com/read/2013/10/22/1939157/Perusahaan.Tak.Bayar.Fidusia.Negara.Rugi.Miliaran.Rupiah)

Hemmm…jangan senang dulu kondisi tersebut merupakan konsumsi, artinya kegunaan uang habis dipakai, beruntung masih ada juga warga Bengkulu yang berjuang keras menyisihkan pendapatan per bulan untuk menabung tapi belum berani berinvestasi.

)

Selain itu, pada sektor perhotelan dan restoran Bengkulu mengalami kemajuan pesat beberapa perusahaan nasional mulai berani membuka bisnis hotel bintang dua. Namun sayang, bidang pertanian justru mengalami perlambatan atau cenderung jalan di tempat.

)

Alih fungsi lahan sawah ke perumahan, perkebunan sawit juga tak terelakkan, lebih dari 20 ribu sawah beralih ditengarai rusaknya beberapa irigasi dan salurannya. (http://kupasbengkulu.com/bkp-sebut-puluhan-ribu-hektare-sawah-bengkulu-menyusut/)

Bengkulu bertumpu pada sektor pertambangan batubara, beberapa data BPS bidang ini nomor satu urusan ekspor tapi sekali lagi ini semu tak berimbas pada kemakmuran yang terjadi kerusakan jalan dimana-mana jika dihitung mungkin keuntungan ekspor defisit untuk memperbaiki jalan umum. Memaksa pelaku bisnis tambang, CPO, untuk menggunakan jalur laut wajib dilakukan dengan perbaikan pelabuhan, atau pelabuhan mandiri.

Pengakuan BPK juga mengejutkan, 90 persen APBD Provinsi Bengkulu adalah dari pusat bukan didapat dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), APBD Bengkulu hanya Rp 1,8 triliun, kalah dengan beberapa kabupaten di Sumsel, Musi Rawas misanya berkisar Rp 2 triliun lebih.

(http://regional.kompas.com/read/2014/09/18/19344721/BPK.Pemda.Tak.Kreatif.90.Persen.Anggaran.Andalkan.Dana.Transfer.Pusat)

Kabupaten Seluma terparah PAD-nya hanya berkontribusi tiga persen di APBD selebihnya belas kasih. (http://kupasbengkulu.com/sumbangan-pad-seluma-ke-apbd-hanya-tiga-persen/)

Tak sedikit kantong-kantong kemiskinan di Bengkulu ditemukan, berumah gubuk berdinding gedek, dan tak memiliki tempat MCK karena tidak sedikit yang bingung untuk mencari tempat berteduh. (http://kupasbengkulu.com/dalam-kemiskinan-menaruh-asa-anak-bisa-sekolah-tinggi/)

Ini yang menyakitkan, sektiar 16 ribu anak tak sekolah karena kemiskinan (http://kupasbengkulu.com/16-ribu-anak-bengkulu-tak-nikmati-sekolah-karena-ekonomi/)

Pak Jokowi, beberapa waktu lalu saya bertemu dengan nelayan di Kelurahan Teluk Sepang, di Kota Bengkulu, mereka cemas jika BBM naik, mereka memastikan kehidupan mereka semakin sulit. Mereka bertutur beberapa minggu lalu ke laut modal Rp 150 ribu tapi hasil yang didapat hanya Rp 25 ribu itu pun harus mereka bagi tiga.

Jumlah rumah tangga nelayan ini cukup banyak di Bengkulu pak, bahkan 16 ribu anak tak sekolah itu tak sedikit merupakan anak nelayan.

Meski demikian, saya harap bapak mendapatkan kesan menyenangkan di kampung kami. Jika ada waktu tak ada salahnya bapak mengunjungi Benteng Marlborough yang kabarnya terbesar di Asia Tenggara, anehkan pak, ngapain penjajah buat benteng itu di kampung kami.

oh, iya pak, kampung kami pada masa Presiden Soekarno pernah dijadikan ibukota militer wilayah Sumbagsel, dan tak bermaksud pamer, kabarnya tetua kami juga banyak sumbangkan emas untuk perjuangan kemerdekaan. Pak Jokowi, semoga kesan menyenangkan yang anda dapat dari kampung kami yang terus bergeliat ini, salam.(***)