Beranda INSPIRASI 54 Tahun Warga di Bengkulu Nikmati Aliran Listrik dari Kincir Air

54 Tahun Warga di Bengkulu Nikmati Aliran Listrik dari Kincir Air

0
Kincir air sederhana menghasilkan listrik di Desa Lebong Tandai
Kincir air sederhana menghasilkan listrik di Desa Lebong Tandai
Kincir air sederhana menghasilkan listrik di Desa Lebong Tandai

Sekitar 230 Kepala Keluarga (KK), Warga Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, sejak tahun 1960 atau sekitar 54 tahun lalu masih memanfaatkan air Sungai Lusang yang mengalir deras di daerah tersebut sebagai pembangkit kincir menghasilkan energi listrik yang multi manfaat, murah, dan ramah lingkungan.

Desa Lebong Tandai merupakan desa tertinggal di Bengkulu Utara sama sekali tak tersentuh aliran listrik dari Pembangkit Listrik Negara (PLN).

Kincir air itu pertama kali dibuat warga setempat, alm. Mahyudin, sekitar tahun 1960, saat ini karyanya itu sudah diikuti oleh warga lainnya.

Kincir air karyanya itu, mampu memberikan penerangan yang digerakkan oleh tenaga dinamo kapasitas 5.000 Watt. Dari sana dapat menghasilkan tenaga listrik kapasitas 5.000 Watt yang bisa dinikmati lima permukiman warga setempat, yang setiap rumahnya bisa menyalakan tiga buah lampu 15 volt dan satu Pesawat Televisi ditambah reciver parabola, satu unit radio listrik, serta setrika listrik.

Permukiman warga di Desa Lebong Tandai yang merupakan bekas bangunan penjajah

Menurut Tokoh Masyarakat setempat, Supandi (51), alm. Mahyudin terinspirasi membuat kincir air dari bekas peninggalan zaman Belanda yang masih tersisa di desa penyumbang Emas Tugu Monas ini. Alm. Mahyudin, kata Supandi, membuat kincir air untuk menghasilkan tenaga listrik, berasal dari air Sungai Lusang yang dilakukan secara otodidak.

”Pertama kali kincir air ini dibuat oleh alm. Mahyudin sekitar tahun 1960, selanjutkan dikembangkan oleh anak-anaknya. Dari sana warga Lebong Tandai mengikuti cara alm. Mahyudin untuk membuat kincir air,” kata Supandi, didampingi Tokoh Pemuda setempat, Asmadi, beberapa waktu lalu.

Supandi menjelaskan, biaya pembuatan kincir air itu menelankan dana sekitar jutaan rupiah. Selain itu, tambah dia, perawatannya sebatas membersihkan kotoran yang menghambat aliran  air serta mengganti oil setiap bulannya. Bahan yang dibutuhkan untuk membuat kincir air pembangkit energi listrik, lanjut Supandi, berupa kayu, dinamo, kawat, kelahar kodok serta kabel yang berfungsi untuk menyalurkan energi listrik dari kincir ke pemukiman warga.

”Dinamo kapasitas 5.000 watt yang menggerakkan kincir air mampu menyalurkan aliran listrik ke lima permukiman. Daya yang dihasilkan kincir juga tidak kalah dengan listrik PLN, baik lampu ataupun televisi dapat digunakan selama 24 jam. Disini sudah ada belasan kincir air yang dibuat warga,” jelas Supandi.

Kincir air yang terbuat dari kayu tersebut, jelas Supandi, dipasang di tepi sungai yang aliran airnya deras. Tujuannya, agar putaran kincir tidak tersendat dan mampu menghasilkan energi listrik yang stabil. Perputaran kincir itu kemudian dihubungkan ke dinamo, sehingga menghasilkan listrik.

Selanjutnya, kata Supandi, dinamo menghasilkan energi listrik, lalu disalurkan ke pemukiman warga dengan menggunakan kabel. Namun, kendalanya dari kincir air tersebut, jika air Sungai Lusang sedang surut atau ada sampah yang menyangkut diputaran roda kincir. Akibatnya, daya listrik menjadi rendah atau tidak stabil. Keberadaan kincir air sebagai pembangkit listrik, tambah dia, sangat membantu warga di ‘Batavia Kecil’ atau nama lain untuk Lebong Tandai, yang tidak terjangkau listrik PLN.

”Dari 230 Kepala keluarga (KK) sebagian sudah ada membuat kincir air sendiri untuk rumahnya sendiri. Sebagian warga lainnya masih menumpang dengan warga yang memiliki kincir air. Hanya saja, warga yang masih menumpang setiap bulannya dikenakan biaya perawatan sebesar Rp 150 ribu serta untuk mengganti oli dinamo,” pungkas Supandi diamini Asmadi.

Penulis Demon Fajrie