Pengolaan air seni sapi menjadi pupuk

Pengolaan air seni sapi menjadi pupuk kelapa sawit Kabupaten Mukomuko

Sejak awal 2014, kelangkaan pupuk bersubsidi sangat terasa di kalangan petani wilayah Kabupaten Rejang Lebong. Efeknya, grafik produksi tani mulai menurun hingga awal April 2014. Sekumpulan petani akhirnya mulai resah dan berbondong mendatangi Dinas Pertanian (Distan) setempat. Ditambah lagi dengan keputusan pemerintah untuk menarik subsidi BBM, yang sempat membuat para petani meradang.

(Baca juga: Menyusur Kelangkaan Pupuk Subsidi di Bengkulu)

Waktu terus berlalu, sedangkan tanaman sudah harus disemi kembali. Justru solusi datang dari hal yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Urine sapi, dengan kata lain, air kencing sapi, atau yang lebih ekstrim, air yang keluar dari alat vital sapi. Bagaimana bisa?

Kepala Dinas Peternakan dan perikanan (Disnakan) Rejang Lebong, Amrul Eby, menyatakan setelah diuji coba di berbagai wilayah seperti Desa Sumber Urip, Kelurahan Talang Benih, Desa Sumber Bening dan beberapa desa sentra produksi tani di Kabupaten Rejang Lebong, hasilnya memuaskan. Selain tanaman tumbuh lebih besar, daunnya lebih hijau juga tidak dihinggapi hama seperti ulat, walang dan lainnya. Hasil produksi juga memuaskan, misalnya padi, satu hektarnya bisa menghasilkan enam sampai delapan ton padi.

(Baca juga: Urine Sapi jadi Pupuk Sawit)

“Seorang peternak bisa menghasilkan hingga 200 liter urine ternak. Soalnya, setiap seekor ternak menghasilkan urine antara 15-20 liter sehari. Dengan kalkulasi seperti itu, seekor sapi cukup untuk menjadi penghasil pupuk bagi satu hektar lahan,“ terang Eby.

Air kencingnya, tetap air kencing sapi biasa, dari warna dan juga “wanginya”. Hanya saja, sedikit dilakukan rekayasa pada makanan si penghasil urine. Makanan sapi biasanya adalah jerami yang dicampurkan sedikit garam. Dalam beberapa kasus, peternak juga mencampurkan Enzym Bossdext pada makanan sapi, untuk hasil yang lebih optimal.

“Saat ini sudah mulai banyak petani kita yang menggunakan pupuk ini, selain hemat biaya, bahan juga mudah ditemukan,”jelas Eby.

Tertarik untuk membuat pupuk cair organic ini? Berikut Febri (26) salah seorang peternak di wilayah Kelurahan Adirejo, Curup membeberkan cara pembuatannya pada kupasbengkulu.com.

Untuk pupuk cair kualitas biasa, urine sapi tersebut digabungkan dengan lengkuas, kunyit, jahe, kencur dan brotowali yang sudah dihancurkan. Tujuannya adalah menghilangkan bau pesing “khas” dari urine sapi dan menghasilkan rasa dan wangi baru yang tidak disukai oleh hama tanaman. Setelah semua dicampurkan, terakhir masukkan tetes tebu.

Kemudian, gabungan bahan tersebut didiamkan didalam drum atau tong selama dua minggu. Setelah terjadi proses fermentasi, maka kandungan kimia dari urine sapi tersebut adalah N : 1,4 sampai 2,2 %, P: 0,6 sampai 0,7%, dan K 1,6 sampai 2,1. Selain itu, mikroba yang terbentuk usai fermentasi sangat baik bagi tanah dan tanaman. Setelah didiamkan selama dua minggu, kemudian pupuk tersebut di saring dan di masukkan kedalam plastik dan sudah siap untuk digunakan.

Kemudian, kata Febri, ada banyak rekan-rekan petani yang memiliki ternak sudah mulai mengaplikasikan hal ini. Selain memberi hasil yang cukup produktif, penggunaan pupuk cair organik ini juga dapat menekan pengeluaran. Mereka sepakat, tidak ada masalah yang tidak ada solusinya.

“Bahkan, bila menggunakan pupuk bersubsidi sekalipun, masih lebih hemat,”kata Febri. (**)

Penulis : Adhyra Irianto, Curup.