Logo BNI

Logo BNI

Bengkulu – Matahari terasa begitu menyengat. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB seperti yang dijanjikan agar warga berkumpul di halaman Masjid Al Amin yang terletak di Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.

Memang agak sulit mencari lokasi tersebut apabila belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Untuk mencapainya kita harus melewati gang kecil dengan beberapa kelokan. Atau apabila terasa sulit, cukup cari SMA Negeri 1 Kota Bengkulu sebagai patokan, kemudian minta diantarkan warga sekitar menuju lokasi. Sekolah negeri tersebut cukup terkenal di kalangan masyarakat.

“Panas nian, tinggal nunggu Pak Gubernur lagi baru bisa mulai,” celetuk salah seorang warga dengan bahasa pergaulan masyarakat Bengkulu, sambil mengipas-ngipas kegerahan.

Masjid tersebut tampak tak begitu megah bila dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya di kawasan itu. Letaknya di antara rumah warga dengan warna hijau mencolok dan tampaknya masih dalam perbaikan. Di depannya berdiri tegak tenda merah putih dengan beberapa orang mengenakan pakaian putih berpayung hitam bertuliskan BNI dan Adhi Karya.

Benar saja, Kementerian BUMN dengan program “BUMN Hadir untuk Negeri” menyemarakkan HUT RI ke 70 dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan serentak di 34 provinsi se Indonesia. Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT. Adhi Karya Tbk berkesempatan menunjukkan kepedulian kepada masyarakat di Provinsi Bengkulu. Salah satu kegiatan sosial yang dilakukan adalah memberikan bantuan pompa air dan sanitasi, serta dana renovasi masjid.

“Beberapa bentuk kepedulian yang bisa BUMN tunjukkan kepada masyarakat dengan memberikan apa yang masyarakat paling butuhkan. Kami menilai masalah pompa air dan sanitasi menjadi hal yang mendesak untuk diwujudkan,” ujar CEO BNI Regional Sumbagsel, Asmorohadi.

Kelurahan Lempuing merupakan salah satu daerah yang cukup sulit mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, mengingat letaknya yang lumayan dekat dengan laut. Tak hanya di Kelurahan Lempuing saja, BNI dan PT. Adhi Karya juga akan memberikan bantuan sumur bor dan sanitasi di beberapa wilayah lain seperti Kelurahan Tanah Patah, Malabero, Kebun Tebeng, dan Sungai Hitam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.20 WIB, masyarakat semakin ramai. Tepat sepuluh menit kemudian, Gubernur Bengkulu, Junaidi Hamsyah, yang dinanti untuk meresmikan sekaligus menyerahkan bantuan secara simbolis kepada masyarakat tiba di lokasi.Rona sumringah terpancar dari wajah pria 45 tahun itu menyapa semua yang hadir di sana. Junaidi mengatakan bantuan yang diberikan BUMN ini sangat menyentuh kebutuhan masyarakat dan dia berharap program serupa tidak hanya dilakukan di tahun ini saja, melainkan dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.

“Saya sangat tersentuh dengan bantuan ini, bahkan sesegera mungkin Pemprov Bengkulu mengirimkan surat undangan agar Menteri BUMN berkenan berkunjung ke sini melihat kondisi Bengkulu,” kata Junaidi.

BUMN memberikan bantuan senilai Rp 50 juta yang diperuntukkan bagi renovasi masjid Al Amin. Gubernur berpesan kepada masyarakat untuk menjaga masjid tersebut agar yang lain pun tak segan apabila ingin memberikan bantuan ke sana.

“Bismillahirrohmanirahim, semoga air ini menjadi berkah bagi semua,” ucap Gubernur sembari memutar tiga keran air bersama Direktur BNI dan PT. Adhi Karya.

Suherman, salah seorang pengurus masjid berkisah Al Amin dahulunya merupakan sebuah Mushola yang dibangun sejak 15 tahun lalu pasca gempa bumi dahsyat tahun 2000. Baru setahun yang lalu Mushola Al Amin berubah menjadi masjid dikarenakan jumlah jamaah yang semakin bertambah. Berkat bantuan salah seorang anggota DPD RI, bangunan seluas 10 x 12 M2 tersebut akhirnya dipasangi sumber air dari PDAM. Dengan swasembada masyarakat, tiap bulannya mereka mengumpulkan dana membayar PDAM antara Rp 100-150 ribu per bulan. Atau jika beruntung, ada-ada saja jamaah dermawan yang bersedia membayarkan biaya tersebut secara pribadi.

Sayangnya, bangunan Masjid Al Amin terlampau rendah. Manakala hujan deras mengguyur, masjid tersebut bisa tergenang air hingga setengah meter. Hal itu mengakibatkan masyarakat tak dapat menunaikan sholat di masjid saat hujan.

“Konstruksi bangunan terlalu rendah dan posisi tanah berada di turunan sehingga saat hujan, air dari atas mengalir menggenangi bagian dalam masjid. Kalau sudah begitu, sholat di masjid tak bisa dilaksanakan,” cerita Suherman.

Untuk itu, saat ini sudah dimulai renovasi dengan meninggikan bagian lantai masjid, tak lupa diperindah dengan pemasangan lantai keramik berwarna putih. Tinggal setengahnya lagi sampai masjid ini benar-benar bisa digunakan kembali. Masyarakat pun sudah terbantu dengan pemasangan sumur bor dan sanitasi sehingga diharapkan beban biaya yang harus dikeluarkan semakin ringan. Apalagi ditambah dana bantuan Rp 50 juta yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan dan kegiatan lainnya.

“Kami sangat berterima kasih kepada BUMN, khususnya BNI dan PT. Adhi Karya yang telah memberikan bantuan kepada masjid kami. Kalau dulu kami tidak punya sanitasi, wudhu harus dari rumah karena PDAM sering macet, sekarang mudah-mudahan kami bisa menjalankan ibadah dengan lebih baik lagi. Masyarakat juga bisa mendapatkan sumber air bersih cadangan untuk sehari-hari,” tutup Indrajaya, Ketua BKM Masjid Al Amin.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.49 WIB, acara diakhiri dengan doa. Meski matahari masih menyilaukan pandangan, samar-samar awan kelam mulai menyelimuti. Sepertinya akan hujan, namun jamaah Masjid Al Amin tak lagi resah. Sebentar lagi, saat hujan deras turun, mereka tetap bisa menghadap Tuhan tanpa rasa was-was karena masjid mereka tak akan kebanjiran lagi.(Valentina Alfarani)