heriii

Direktur Eksekutif Political Communication (PolcoMM) Institute, Heri Budianto

Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Direktur Eksekutif Political Communication (PolcoMM) Institute, Heri Budianto, mengadakan Konferensi Nasional Komunikasi 2014 bertajuk “Komunikasi untuk Membangun Masyarakat Daerah”.

Disebutkan Heri, selain sebuah pertemuan tingkat nasional, forum ini dilaksanakan sebagai bentuk promosi Provinsi Bengkulu, terlebih dalam menyambut berbagai event nasional dan kunjungan kenegaraan yang sebelumnya telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat.

“Bengkulu ini momentumnya tepat. Bapak Presiden baru pulang dari Bengkulu. Jadi konferensi ini dilaksanakan untuk lebih menyebarluaskan promosi Bengkulu di tingkat nasional, dan itu tidak harus dilakukan oleh pemerintah daerah. Orang-orang Bengkulu yang berada di kota lain itu juga punya tanggung jawab untuk mempromosikan, membantu masyarakat Bengkulu agar bisa dikenal oleh pusat,” ujar Heri, yang juga merupakan keturunan asli Bengkulu, Selasa (09/12/2014).

Menurutnya, para akademisi yang hadir di Provinsi Bengkulu ini adalah mereka yang memiliki potensi dan jam terbang tinggi dalam melakukan penelitian tentang masyarakat daerah, dan itu dikaitkan dengan forum komunikasi. Sebagaimana diketahui, peran media massa sangat penting dalam membangun masyarakat daerah, sehingga dalam konferensi ini turut mengundang Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Ikatan Jurnalis Televisi, juga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

“Kami harapkan dengan adanya kegiatan semacam ini, ada sebuah rumusan yang kita capai di Bengkulu tentang bagaimana konsep membangun masyarakat daerah dalam kacamata atau perspektif ilmu komunikasi, yakni dari segi Public Relation (PR), Jurnalistik, maupun Broadcasting,” kata Heri.

Sebelumnya, Provinsi Bengkulu pernah menjadi tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2014 dan Bulan Penanggulangan Risiko Bencana (PNPB) Nasional. Momen-momen sejarah ini menurut Heri diperlukan untuk bisa menjadi standing point bagi Bengkulu agar menjadi sebuah tempat yang bisa melahirkan konsep-konsep pembangunan masyarakat.

Heri menyebutkan, pemerintah Provinsi Bengkulu harus mem-follow up program yang menjadi target pemerintah pusat. Pemerintah tidak bisa kita hanya menunggu dari apa yang dijanjikan Presiden, dan harus mampu menjaga komitmen.

“Misal, Presiden mencanangkan pembangunan Pasar Panorama yang dijanjikan menjadi Pasar Tradisional Modern (PTM). Tidak boleh disimpangkan menjadi Mall, misalnya. Karena itu akan menghilangkan trust (kepercayaan) pemerintah pusat,” lanjutnya.

Selain itu, para pemimpin Bengkulu perlu memiliki pemikiran-pemikiran jangka panjang dalam pembangunan. Menurut pengamatannya, Presiden Jokowi merupakan tipikal pemimpin yang akan merealisasikan bantuan pengembangan program apabila program tersebut sudah dijalankan. Sehingga Bengkulu segera membuat program berbasis kerakyatan dan potensi lokal. Misal bidang kemaritiman atau pun perkebunan asli Bengkulu. Jika itu sudah berjalan, maka pemerintah pusat tidak segan-segan untuk memberikan bantuan.

“Beliau (Jokowi-red) ini tipikal pemimpin yang tidak suka mengesahkan proposal di awal. Misal, kita punya rencana untuk membuat tempat pelelangan ikan dan kita baru mau buat. Beliau maunya program jalan dulu, baru dikembangkan dengan pengajuan proposal ke pemerintah pusat. Action dulu, walaupun kecil,” pungkas Heri.(val)