BKKBN

kupasbengkulu.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu menggunakan sarana seni budaya untuk mensosialisasikan program Keluarga Berencana (KB).

“Ini upaya kita dalam memberikan pemahaman kepada seluruh stakeholder sebagai upaya kita meningkatkan pembangunan melalui keluarga,” ujar Kepala BKKBN Provinsi Bengkulu, Maryana, Senin (21/03/2016).

Pihaknya mengimbau untuk melakukan perubahan cara pandang melalui revolusi mental. Pendekatan seni budaya dinilai mampu berkontribusi dikarenakan seni budaya sudah ada sejak dahulu.

Berbagai tantangan pembangunan kependudukan di Provinsi Bengkulu tidak terlepas dari jumlah penduduk. Sebagaimana hasil sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk sebesar 1.715.518 jiwa melebihi proyeksi yang telah direncanakan dengan laju pertumbuhan penduduk pertahunnya 1,67 persen lebih tinggi dari laju pertumbuhan penduduk nasional yakni 1,49 persen dengan Total Fertility Rate (TFR) 2,2 lebih kecil jika dibanding dengan TFR nasional 2,6.

Ditambahkan Staf Ahli Bidang Pembangunan Pemprov Bengkulu, Septe Melian, keberhasilan dari program KB di Provinsi Bengkulu dibuktikan dengan menurunnya angka kelahiran.

Berdasarkan hasil SDKI 2012 turun dari 2,3 rata-rata anak per wanita usia subur pada tahun 2007 menjadi 2,2. Akan tetapi hasil tersebut belum dapat menurunkan masalah kematian ibu saat hamil, melahirkan, dan nifas.

“Secara nasional hasil SDKI 2012 sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk Provinsi Bengkulu hasil perhitungan sementara 220 per 100.000 kelahiran hidup, masih jauh dari tujuan MDGS tahun 2015 dan kematian bayi 29 per 1000 kelahiran hidup,” terangnya.

Menurutnya pelaksanaan program ini mempunyai tantangan tersendiri. Diperlukan strategi komunikasi lain agar posisi program kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga tidak terpinggirkan oleh kemajuan teknologi dan isu strategis dunia, diantaranya melalui pemanfaatan media seni budaya. Sebagai media rakyat, pendekatan ini lebih mudah digunakan sebagai sarana penyebarluasan informasi pembangunan.

“Dengan ini diharapkan masyarakat merasa memiliki dan terlibat dalam pembuatan dan penampilan sehingga terjadi perubahan sikap dan perilaku terhadap program ini sehingga memungkinkan tersampaikannya pesan-pesan pembangunan KB secara lebih efektif,” tandasnya. (val)