Bank Indonesia

KUPASBENGKULU.com, EKBIS – Bank Indonesia perwakilan Bengkulu mencatat Provinsi Bengkulu mengalami pertumbuhan ekonomi, serta dapat menekan angka inflasi dari perhitungan year on year (yoy). Secara nasional Bengkulu pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata, tetapi masyarakat Bengkulu masih sangat rentan dengan ‘shock’ ketika ada kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dari perhitungan tahun lalu, BI dapat menekan inflasi pada Mei 2014 mencapai 5,66% yoy dan Mei 2015 5,44% yoy.

“Kondisi ekonomi global memang saat ini tidak stabil, terlebih lagi saat ini di sisi permintaan, terjadi perlambatan ekonomi yang bersumber dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan investasi. Daya beli masyarakat tentang konsumsi sangat berkurang hingga 60%, oleh karena itu menjadi salah satu lambatnya pergerakan ekonomi di Indonesia,” ujar Deputi BI Tim Keuangan dan Ekonomi, Christin Sidabutar Rabu (08/07/2015) saat jumpa pers di Gedung BI Bengkulu.

Sedangkan disisi sektoral, perlambatan bersumber pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor konstruksi. “Kita lihat saat ini CPO sedang mengalami penurunan, batu bara juga sekarang sedang lesu,” jelas Christin.

Perkembangan inflasi Bengkulu, lanjut Christin, sampai dengan Juni 2015 di hitung dari year on year nasional di 7,26 sedangkan Bengkulu berada di 9,90. Pada perhitungan bulanan (mtm) nasional 0,54 dan Bengkulu 0,89, dan perhitungan year to date (ytd) Bengkulu di atas inflasi nasional 0,96 dan Bengkulu -0,29.

Dari sisi perbankan dari Mei 2014 hingga Juni 2015 kondisi perbankan di Provinsi Bengkulu triwulan II 2015 mengalami perkembangan usaha bank meningkat, resiko kredit terjaga, dan resiko likuiditas perlu diantisipasi.

“Dari aset perbankan Bengkulu naik pada Mei 2014 6,65 tahun ini menjadi 14,79%. Kredit juga naik tetapi tidak begitu signifikan dari 4,16% menjadi 5,38%, dan dana pihak ketiga dari 11,35 menjadi 12,71%,” ungkap Christin.

Ekspektasi inflasi diperkirakan akan meningkat pada triwulan II 2015 yang didorong oleh beberapan faktor. Musim hajatan menjelang ramadhan, meningkatnya konsumsi memasuki ajaran baru, penyerapan belanja daerah meningkat sehingga pendapatan masyarakat yang terkait langsung dengan realisasi anggaran yang akan berdampak.(krn)