Ilustrasi : Istimewa

Ilustrasi : Istimewa

Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Perlakuan kasar dari ayah tiri Bayu (Nama disamarkan red-) menurut bayu seorang pelaku LGBT (Lesbi, Gay, Bisex dan Transgender) Kota Bengkulu mengakibatkan ia mengalami perubahan. Lebih tertarik pada sesama jenis.

Selain itu, tuntutan mengejar kebutuhan hidup dengan diupah dengan cara berbagi kasih sayang ke sesama jenisnya menjadikan prilakunya semakin tumbuh subur.

“Ini sudah takdir saya bang. Lagian masa bodoh dengan malu, toh banyak manusia sekarang gak tau malu. Tu contohnya pejabat banyak makan uang haram, gak malu kan,” sindir Bayu.

Dalam semalam Bayu mengakui sering mengantongi uang hingga ratusan ribu dari pelanggannya. Pelanggannyapun didominasi pria yang sudah kerja, namun ada juga yang masih berstatus pelajar.

“Adalah hehe, abang mau tau banyak sih. Iya, kadang kadang bapak-bapak banyak pelanggan saya. Kadang ada yang broke (brondong kere.red) tu,” tambahnya dengan memakai kalimat alainya.

(Berita Sebelumnya: Curahan Hati Sunyi, Kaum “LGBT” Bengkulu)

Dalam layanannya, Bayu mematok tarif Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu, sesuai jasa yang diberikan olehnya. Selain itu dirinya juga sudah menyiapkan berupa dua benda yang memancing alat vital sesama jenisnya agar dapat merangsang.

Kedua barang itu diketahui, berupa body lotion dan tissu. Kedua barang tersebut menurutnya ampuh dalam memberikan kepuasan sendiri para pelanggannya.

“Aman bang, sama aja kok. Pasti puas, kalau gak puas gak usah bayar,” ujarnya merayu.

Namun Bayu pun juga terkadang galau, karena tak banyak pelanggannya sering menipu dirinya ketika usai memberikan layanan.

“Gak juga bang, kadang ada orang yang udah enak langsung nyelonong,”

Singkat pembicaran malam itu bersama Bayu, akhirnya ia merasakan kejenuhan hidupnya saat ini. Timbul juga rasa iri ketika melihat beberapa sahabatnya menikah dengan lawan jenisnya.

Menurutnya, inilah menjadi kegalauan terbesar di dalam dirinya. Namun ia tetap yakin, suatu saat nanti dirinya akan perlahan berubah mengikuti perputaran waktu.

“Semua sudah diatur sama diatas, rezeki, jodoh dan sakit. Saya hanya bisa menjalaninya, nanti saya juga mau menikah sama cewek beneran, hehhee,” imbuh Bayu.

Bayu menginginkan perubahan dalam hidupnya menjadi pria normal, memiliki keluarga dan anak. Namun hingga kini keinginan tersebut tak juga kunjung terwujud karena berkelindannya kebutuhan hidup dan faktor lingkungan sosial.

Peran pemerintah dan perguruan tinggi sangat diperlukan dalam mengatasi persoalan ini dengan hati.(Tamat)