Meliana Sirait

Meliana Sirait

Oleh: Melina Sirait*

Apa yang kamu lakukan hari ini tepat dihari peringatan sumpah pemuda? Mungkin ada yang update status FB atau ngetweet yang bertema sumpah pemuda, ada yang buat acara khusus memperingatinya disekolah, kampus, atau organisasi pemuda.

Halaman berita koran dan online pun sama-sama membahas dan menampilkan ikon-ikon pemuda yang berprestasi, pemuda yang berpengaruh atau apapun itu. Hey.. ini pemandangan biasa.. coba baca lagi teks sumpah pemuda dibawah ini.

Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Mungkin terlalu puitis kalau ditanyakan apa yang kamu rasa ketika sungguh-sungguh membaca sederet kata-kata itu. Tapi saya yakin kamu masih punya perasaan dan tak hanya itu, tapi juga kesadaran untuk merefleksi dirimu.

Dalam hati saya berkata begini, Sadar aku masih muda.. aku adalah pemuda Indonesia, lahir hingga seperempat waktu dihidupku di negeri yang kucinta ini. apa karyaku..? apa artiku.?. Bagi sebagian masyarakat yang mengagungkan alay-isasi otomatis kamu anggap saya lebay.

Kamu tau sejarah sumpah pemuda? Kalau kamu tahu bilang saja tidak tahu. Biar saya ceritakan lagi supaya makin lengket di Softdiskmu. Begini ceritanya : Pada zaman dahulu tepatnya tanggal 27 Oktober 1928 digelar Kongres Pemuda II di Jakarta.

Kongres ini di prakarsai oleh PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang anggotanya adalah sebagian besar mahasiswa sekolah hukum dan beberapa mahasiswa kedokteran di Batavia pada masa itu.

Ada 9 Organisasi pemuda dan juga tokoh-tokoh pergerakan nasional Soekarno, Sartono dan Sunaryo juga hadir di Kongres ini. Pada intinya kumpulan pemuda ini ingin berembuk bagaimana cara untuk membentuk persatuan di antara pemuda-pemuda di Indonesia dan pemuda Indonesia yang berada di negeri Belanda.

Kongres yang berlangsung selama tiga hari ini pada akhirnya melahirkan sumpah pemuda. Sejak saat itu pernyataan ikrar ini menjadi asas wajib di pakai oleh segala perkumpulan kebangsaan Indonesia.

Kita tidak hanya dapat melihat atau membaca hasil dari kongres pemuda ini tapi kita mungkin harus menggunakan korteks audio visual kita untuk mengimajinasikan proses yang dilakukan oleh kumpulan besar manusia muda yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan segala keterbatasan media komunikasi dan informasi pada saat itu.

Bagaimana akhirnya mereka bisa menjadi satu, bersatu untuk memikirkan peran dan langkah mereka untuk mendapatkan kedaulatan negaranya. Ini bukan soal diri sendiri atau kelompok. Tapi soal negara.
Yang paling dekat ini, apakah kamu yakin atau mungkin kamu pernah berpikir bagaimana kamu sendiri dapat menghadapi era pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean 2015? Tentunya kamu harus memiliki kemampuan yang diatas rata-rata dari orang-orang yang berada di Zona MEA ini.

Lantas bagaimana kita pemuda Indonesia mampu mempertahankan kedaulatan negara. Kedaulatan negara bukan hanya masalah teritorial tapi “harga diri” negara Indonesia. Seberapa kuat pertahanan kita.

Seperti peribahasa mengatakan sebatang lidi mudah dipatahkan tetapi sapu lidi tidak. Kita kuat, kita mampu jika kita bersatu. Sesuai dengan tema sumpah pemuda tahun ini yaitu “Bangun Soliditas Pemuda Maju dan Berkelanjutan”. Mari kita maknai lagi.

Mungkin saya dan kamu belum melakukan apa-apa hingga saat ini. Tantangan ada di depan mata. Jangan tinggal diam melihat permasalahan yang ada disekeliling kita yang seringkali kita acuhkan. Jangan lagi mengotak-kotakkan manusia, dan yang terpenting adalah melatih diri untuk menjadi pribadi yang punya integritas, moral dan rasa kebangsaan serta terus berprestasi.

Pengelola Diskusi “Kamisan” kupasbengkulu.com