Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Bambang Himawan, ternyata punya kiat jitu atasi lonjakan inflasi yang diperkirakan terjadi pada bulan Ramadhan mendatang.

Bambang mengatakan, andil para alim ulama sangat dibutuhkan mengingat perkiraan lonjakan inflasi ini terjadi karena gaya hidup atau kebiasaan masyarakat yang dinilai kurang tepat dalam memaknai bulan Ramadhan.

“Para alim ulama harus ikut andil dalam pengendalian lonjakan inflasi saat bulan Ramadhan ini. Kenapa saat Ramadhan inflasi jadi tinggi? Hal ini karena saat Ramadhan masyarakat lebih banyak mengeluarkan uang, baik untuk membeli berbagai macam makanan berbuka puasa maupun zakat yang berlimpah di bulan Ramadhan ini,” ujar Bambang.

Bambang menilai, kebiasaan ini bukan hal yang buruk, namun alangkah baiknya apabila masyarakat lebih bijaksana dalam hal pengeluaran. Dia mengatakan fenomena ini hampir sama dengan penggunaan dana APBD pemerintah yang banyak sekali dikeluarkan pada triwulan ke empat. Padahal seharusnya pengeluaran merata di setiap bulan.

“Ada 2 hal yang alim ulama harus kerjakan. Pertama mengendalian permintaan masyarakat. Puasa itu kan mengendalikan lidah kita, kalau di rumah sudah ada makanan berbuka, hendaknya tidak perlu terus beli di luar,” katanya.

“Kemudian persoalan zakat, masyarakat mendadak jadi baik di bulan Ramadhan. Zakat dikeluarkan semua di bulan itu, akibatnya penggunaan uang oleh masyarakat berlimpah. Tugas ulama beri tahu ke masyarakat agar memberi zakat jangan hanya di bulan Ramadhan saja, tapi dipecah ke bulan-bulan lain, karena kalau tidak demikian menyebabkan tekanan inflasi terlalu tinggi,” lanjut Bambang.

Bambang menambahkan dengan pemberian zakat yang dilakukan setiap bulan secara merata tersebut, penerima zakat yang notabene masyarakat miskin tetap bisa menikmati hidup layak sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadhan saja. Tekanan inflasi pun tidak akan menguat di bulan Ramadhan, khususnya saat puasa tiba.(val)