kemeja

Sabar Ardiansyah

*Oleh : Sabar Ardiansyah, SST

Pantai Panjang merupakan salah satu objek wisata andalan di Propinsi Bengkulu. Sebagai objek wisata yang memiliki sejuta pesona, tentu kawasan ini selalu ramai didatangi oleh pengunjung. Tidak hanya pengunjung dari dalam Propinsi Bengkulu, pengunjung dari luar daerah juga ramai mengunjungi objek wisata ini.

Pengunjung akan semakin ramai pada saat-saat tertentu misalnya menjelang pergantian tahun baru, hari raya, serta acara adat daerah “Tabot”. Namun, di balik indahnya panorama pantai Panjang ini ada satu sisi potensi bencana yang mungkin saja luput dari pengamatan kita yaitu potensi bencana gempabumi dan tsunami.

Sebenarnya, sepanjang pantai bagian barat pulau Sumatera merupakan wilayah potensi terjadi gempabumi dan tsunami, tak terkecuali sepanjang pantai di Propinsi Bengkulu termasuk kawasan objek wisata pantai Panjang.

Adanya potensi terjadi gempabumi besar yang disertai tsunami disebabkam karena sepanjang pantai ini merupakan zona pertemuan dua lempeng besar yaitu lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Zona pertemuan dua lempeng ini biasa dikenal dengan istilah “zona subduksi”.
Masih jelas dalam ingatan kita, gempabumi besar pernah terjadi pada zona sunduksi wilayah Bengkulu pada tanggal 4 Juni 2000 dengan skala kekuatan 7,9 yang mengakibatkan kerusakan infrastruktut di Propinsi Bengkulu.

Belum hilang trauma akibat gempabumi ini, pada tanggal 12 September 2007 Bengkulu kembali diguncang oleh gempabumi dengan kekuatan lebih besar yaitu 8,5. Gempabumi ini telah mengakibatkan 17.695 rumah hancur, 21.035 rumah rusak parah, dan 49.496 rumah mengalami kerusakan ringan, serta mengakibatkan setidaknya 25 orang meninggal dunia dan 100 orang terluka (Laporan Situasi OCHA No.8). Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPENNAS) Indonesia memperkirakan kerugian akibat gempabumi ini mencapai 1,5 triliun rupiah (US$ 164 juta).

Mari kita lihat lebih jauh sejarah gempabumi yang disertai tsunami yang pernah terjadi di massa lalu di wilayah Bengkulu yaitu gempabaumi pada 24 November 1883 dengan kekuatan 9,0. Dermaga dan bangunan pelabuhan di Bengkulu tersapu ludes oleh tsunami, dan beberapa kapal terhempas ke darat akibat gempa tahun 1883 ini.

Menurut laporan, satu orang ibu beserta anaknya hilang karena terbawa arus tsunami, sedangkan sebagian besar masyarakat yang selamat dengan cara memanjat pohon dan menunggu sampai air surut. Tsunami juga sampai ke Padang Sumatera Barat yang mengakibatkan kerusakan baik di pesisir pantai maupun pemukiman penduduk.

Apakah ancaman dan rentetan gempa-gempa ini sudah berakhir? Kita semua berharap demikian, tapi data dan praduga ilmiah menunjukkan sebaliknya. Dugaan para peneliti, setelah terjadi gempabumi besar tahun 1833, saat ini kawasan pantai barat Sumatera menyimpan gempabumi raksasa yang masih “bertapa”.

Diduga kawasan yang masih menyimpan potensi gempa besar itu berada pada zona subduksi sekitar pulau pagai, siberut dan sipora. Potensi gempa yang masih tersimpan mencapai di atas 8.0 SR. Artinya jika suatu saat terjadi, maka potensi kerusakan akibat gempa serta potensi tsunami akan sampai di pantai Bengkulu, tidak terkecuali di kawasan Pantai Panjang.

Potensi bencana gempabumi dan tsunami di kawasan pantai panjang perlu mendapat sorotan khusus mengingat padatnya aktivitas di kawasan ini. Mulai dari pusat perbelanjaan, hotel, serta pemukiman penduduk ada di kawasan ini. Sayangnya, pesatnya pembangunan pusat ekonomi di kawasan ini tidak diimbangi dengan “benteng” penahan gelombang tsunami jika suatu saat tsunami menerpah.

Kita ketahui bersama bahwa kawasan pantai panjang merupakan wilayah dengan tipe pantai yang landai, sedangkan bangunan-bangunan di kawasan ini berhadapan langsung dengan bibir pantai. Sehingga potensi bencana akibat sapuan gelombang tsunami sangat tinggi jika tsunami datang melanda di masa yang akan datang.

Tanda-Tanda Alam Sebelum Terjadi Tsunami

Yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa sebelum terjadi tsunami maka akan didahului oleh gempabumi kuat. Sangat disayangkan jika ada pihak yang tidak bertanggung jawab menyebar isu akan terjadi tsunami di suatu tempat, padahal sebelumnya tidak ada gempabumi yang terjadi. Jika ada isu seperti ini, maka abaikan saja.

Adapun kriteria gempabumi pembangkit tsunami antara lain : lokasi pusat gempabumi (episenter) terletak di dasar laut, mempunyai kekuatan diatas 7.0 SR, kedalaman gempabumi dangkal (kurang dari 60 km) serta jenis sesar adalah sesar naik atau turun.

Beberapa tanda alam yang bisa diamati oleh penduduk pesisir pantai sebelum terjadi tsunami biasanya cukup beragam. Diantara tanda-tanda alam tersebut adalh : air laut di sekitar pantai surut secara tiba-tiba dan berlangsung cepat. Tanda-tanda lainnya adalah adanya suara gemuruh di tengah lautan.

Suara ini terjadi karena adanya resonansi bunyi gulungan air terhadap dasar laut yang mengalami pendangkalan sehingga suaranya akan terus bergemuruh. Suara gemuruh ini ada yang menyerupai suara ledakan, suara badai, deru kereta api, atau suara roket yang mendesing.

Siap Siaga Kunci Utama

Baru saja telah berlangsung kegiatan pelatihan Latihan Galdi Ruang/Table Top Exercise (TTX) pada tanggal 5-7 November 2014, serta kegiatan latihan Gladi Posko/Comand Post Ecercise (CPX) bencana tsunami pada tanggal 10-12 November 2014 di Kota Bengkulu yang melibatkan gbungan instansi yang berkaitan langsung terhadap bencana gempabumi dan tsunami seperti BPBD Kota Bengkulu, BMKG Kepahiang, SAR Bengkulu, Kodim 0407, Polres Bengkulu, Lanal Bengkulu, Dinas PU, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, ORARI, dll.

Dari kegiatan simulasi ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat menyadari betapa tinggi potensi gempabumi dan tsunami di kawasan Kota Bengkulu umumnya termasuk kawasan objek wisata Pantai Panjang, sehingga perlu melakukan gladi atau latihan gabungan untuk meningkatkan kewaspadaan serta melatih kesiapsiagaan.

Melihat tingginya potensi gempabumi dan tsunami di wilayah Bengkulu ini, perlu mendapat perhatian dari semua lapisan masyarakat serta lembaga berwenang untuk senantiasa meningkatkan kesiapsiagaan. Salah satu lembaga yang berwenang melakukan pamantauan secara langsung dan terus menerus yaitu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) khususnya Stasiun Geofisika Kepahiang. BMKG Kepahiang melakukan pengamatan gempabumi dan tsunami selama 24 jam.

Dalam upaya melaksanakan tugas pengamatan gempabumi dan tsunami, BMKG telah memasang peralatan pencatat gempabumi di beberapa titik sepanjang pantai Bangkulu serta sekitar patahan lokal yang berpotensi terjadi gempa darat. Peralatan ini juga dilengkapai sistem komunikasi, penyebaran informasi, dan peralatan peringatan dini tsunami, salah satunya sirine peringatan dini tsunami.

Upaya mitigasi bencana gempabumi dan tsunami tidak bisa ditangani oleh satu pihak, oleh sebab itu BMKG telah bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sistem informasi gempabumi dan tsunami yang dikeluarkan BMKG secara otomatis akan dikirim ke BPBD propinsi dan BPBD seluruh kabupaten di Bengkulu.

Selanjutnya, jika suatu waktu informasi gempabumi yang dikeluarkan berpotensi tsunami, maka BPBD propinsi akan membunyikan sirine peringatan dini tsunami serta melakukan tindakan evakuasi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan. Pada tahapan inilah akan diuji sejauh mana kesiapsiagaan dan kepatuhan kita terhadap peraturan dan prosedur yang sudah ditetapkan pemerintah.

Pihak yang berperan utama hendaknya selalu siap siaga selama 24 jam karena kita tida pernah tahu kapan gempabumi besar yang berpotensi terjadi tsunami akan terjadi. Bisa saja terjadi pada pagi hari, siang hari, atau malam hari.

Pusat perbelanjaan dan hotel di sekitar pantai panjang harus memastikan jalur evakuasi mudah dipahami oleh pengunjung jika terjadi gempabumi dan tsunami, jika memungkinkan hendaknya menjadi penerima informasi gempabumi dan tsunami secara langsung dari BMKG dengan cara memiliki perangkat penerima informasi gempabumi dan tsunami yang kita kenal dengan nama Digital Video Broadcasting (DVB) atau ranet. Dengan demikian, setiap terjadi informasi gempabumi dan tsunami bisa diperoleh secara langsung dan cepat untuk memperpendek rantai komunikasi.

Masyarakat hendaknya juga dituntut selalu siap dalam menghadapi ancaman gempabumi dan tsunami. Mengenali jalur-jalur evakuasi agar bisa melakukan evakuasi mandiri sebelum datang bantuan dari tim evakuasi mangingat terbatasnya jumlah personil. Masyarakat yang tinggal di pesisir pantai hendaknya selalu membiasakan diri mengambil tindakan penyelamatan diri saat terjadi gempabumi.

Tindakan penyelamatan diri dengan cara segera keluar rumah dan mencari lokasi yang lebih tinggi saat terjadi gempabumi. Mengapa tindakan ini perlu dilaksanakan? Bisa saja sesaat terjadi gempabumi yang kita rasakan tiba-tiba gelombang tsunami datang sebelum sirine peringatan berbunyi. Maka, mengambil kemungkinan terburuk dirasa lebih baik, sambil menunggu informasi resmi dari pemerintah.

Mengenali dan menguasi kondisi sekitar menjadi wajib bagi penduduk yang tinggal di pesisir pantai. Kenali tanda-tanda alam sebelum terjadi tsunami, kenali dan dan kuasi jalur evakuasi, kenali wilayah atau bangunan tinggi yang bisa dijadikan tempat berlindung, serta kenali juga akses informasi darurat terdekat (sirine dll).

Sebagai penutup, semoga potensi gempa dan tsunami yang ada di kawasan pantai panjang tidak membuat kita takut dan enggan berkunjung untuk menikmati keindahan pesona alam di kawasan ini. Tapi sebaliknya, dengan mengetahui potensi gempa dan tsunami yang ada, menjadikan kita selalu siap siaga kapanpundan dimanapun berada. TETAP SIAGA dan selamat menikmati keindahan alam kawasan Pantai Panjang Bengkulu.(***)

Penulis bekerja di BMKG, Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu

e-mail : [email protected]