Selasa, Mei 28, 2024

Sejarah Orang Bugis Datang ke Bengkulu (Habis)

Sejarawan dan Budayawan Bengkulu, Agus Setiyanto.
Sejarawan dan Budayawan Bengkulu, Agus Setiyanto.

kupasbengkulu.com – Perkembangan selanjutnya, Daing Mabela memperoleh posisi yang strategis di wilayah ibukota Bengkulu, yaitu selain diangkat sebagai Kapten Bugis, juga diangkat sebagai  Hoofd van de Vreemdelingen (Kepala Orang Asing) non Eropa. Daing Mabela juga diminta untuk membawa orang-orang Bugis yang ada di Sulawesi untuk direkrut menjadi serdadu Bugis memperkuat barisan keamanan di bawah koordinasi pemerintah kompeni Inggris. Peristiwa migrasinya orang-orang Bugis secara besar-besaran di bawah komando Daing Mabela diperkirakan sejak retaknya hubungan antara Sutan Endey dengan kompeni Inggris tahun 1695.

(baca juga: Sejarah Orang Bugis Datang Ke Bengkulu 2)

Sementara itu, sumber naskah Melayu lokal Bengkulu yang berjudul Bahoewa Inilah Asal Oesoel , pada patsal. 31, maupun dalam Tambo Bangkahoeloe, tidak saja menceritakan tentang awal kedatangan orang Bugis (Daing Mabela) ke Bengkulu, tetapi juga menyinggung tentang jalinan kekerabatan dengan kepala pribumi Sungai Lemau hingga memperoleh posisi yang strategis. Patsal yang ke 31 itu tertulis sebagai berikut :

Koetika zaman toeankoe Pangeran Mangkoe radja ialah datang satoe orang dari Indrapoera gelarnja kata orang Indrapoera Soetan Balinam tetapi asal dahoeloe beliauw itoe orang Boegis negri wadjok gelarnja tjara Boegis Daeng Mabela tinggal di Bangkahoeloe beristri mengambil anak tjoetjoeng Datoe 4 di pasjar Bangkahoeloe beranak laki-laki bergelar Daeng Makoeli. Daeng Makoeli kawin dengan anak Pangeran Mangkoe Radja gelar datoe Njai, Kemoedian ialah Daeng Makoeli itoe diangkat mendjadi Datoe dagang, maka dikoerniai oleh Pangeran pegangan Datoe dagang itoe, dari tanah Merah pendakian dari pantai pasjar Bangkahoeloe laloe dirawang belakang kampoeng Bangkahoeloe  sampai dirawang Soeka Marindoe, laloe belah selatan dari djambatan Niboeng, laloe dirawang Goentoeng sampai di tanah Merah, maka Pangeran Mangkoe Radja menjoeroeh merambah dan membersihkan segala hoetan hoetan lingkaran itoe, koetika itoelah mendjadi Padang semoeanja bernamalah Tenga Padang (Pangeran Mohamad Sah, 1859:48-49; H. Delais dan J. Hassan, 1930: 60-61).

Dari isi petikan naskah Melayu tersebut di atas, dapatlah dijelaskan bahwa Daing Mabela datang ke Bengkulu pada zaman Pangeran Mangku Raja memegang kendali pemerintahan pribumi di wilayah Sungai Lemau. Juga diketahui, bahwa nama lain dari Daing Mabela adalah Sultan Balinam, yang dalam catatan J. Kathiritahmby-Wells disebut Sultan Selan.

Menurut salah satu sumber, Daeng (Daing) adalah gelar untuk bangsawan menengah, sedangkan  Mabela  bahasa Bugisnya berarti jauh (Shelly Errington, dalam Lorraine Gesick, 1989: 108, 131).  Besar kemungkinan nama gelar itu sengaja dipakai karena Daeng Mabela memang menetap di tanah rantau. Daing Mabela kemudian menikah dengan anak keturunan dari Datuk Empat Pasar Bangkahulu, dan dari hasil perkawinannya, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Daeng Makulle (Daing Makoleh).

Selanjutnya diceritakan, bahwa Daeng Makulle kawin dengan Datuk Nyai, anak Pangeran Mangku Raja (kepala pribumi Sungai Lemau). Tampaknya keluarga keturunan Bugis tidak saja berpengaruh besar di wilayah kerajaan Indrapura, tetapi juga di Bengkulu. Terbukti, Daeng Makulle, anak keturunan Daeng Mabela (cucu dari Daeng Marupa) tidak saja berhasil menjalin hubungan kekerabatan dengan kepala pribumi Sungai Lemau, tetapi juga memperoleh posisi strategis, yaitu mendapat jabatan sebagai Datuk Dagang. Bahkan oleh Pangeran Mangku Raja, telah diberi sebidang tanah untuk mendirikan perkampungan baru (kolonisasi) bagi keluarganya.

Sebidang tanah yang masih belukar itu kemudian dibuka, dan akhirnya menjadi sebuah kampung yang diberi nama kampung Tengah Padang (sekarang  menjadi Kelurahan Tengah Padang, Kecamatan Teluk Segara, Kotamadia Bengkulu). Bila dicermati sesuai dengan isi petikan tersebut di atas, maka diperkirakan, bahwa kampung Tengah Padang itu semula wilayahnya paling tidak meliputi  kelurahan Pintu Batu, Kebun Ros, Bajak, Pasar Bengkulu, Sukamerindu, Pengantungan, Kebundahri, dan kelurahan Tengah Padang itu sendiri.

Menurut laporan Wells, setelah Daeng Makulle  kawin dengan anak perempuan Pangeran Sungai Lemau, Daeng Makulle diberi wilayah kekuasaan di Tapp Tuda, yaitu sebuah wilayah yang terbentang  dari Pasar Bengkulu hingga perbatasan utara Sillebar. Untuk lebih jelasnya, berikut isi laporannya di bawah ini :

The latter married a doughter of the Pangeran of Sungai Lemau who ceded to him Tappa Tudda,  the area stretching from Pasar Benkoelen to the northern border of Silebar (Wells, 1977:99).

Selesai.

Penulis: Agus Setiyanto (Sejarawan dan Budayawan Bengkulu)

Related

Sebanyak 9 KPM Desa Suka Mulya Terima BLT-DD Tahap II

Sebanyak 9 KPM Desa Suka Mulya Terima BLT-DD Tahap...

Pemprov Dukung Era Society 5.0 Dalam Upaya Menyiapkan SDM Berdaya Saing

Pemprov Dukung Era Society 5.0 Dalam Upaya Menyiapkan SDM...

Kabupaten Lebong Raih Digital Government Award 2024 di Jakarta

Kabupaten Lebong Raih Digital Government Award 2024 di Jakarta ...

Kades Talang Rendah Sulit Dikonfirmasi Usai Bantuan Pengadaan Unggas Ditolak Warga

Kades Talang Rendah Sulit Dikonfirmasi Usai Bantuan Pengadaan Unggas...

Lebong Meraih Penghargaan Sebagai Kabupaten Terbaik Se-Sumatera dalam Digitalisasi SPBE

Lebong Meraih Penghargaan Sebagai Kabupaten Terbaik Se-Sumatera dalam Digitalisasi...