Pengrajin batu akik di Kepahiang

kupasbengkulu.com – Seantero Indonesia sepertinya masih terjangkit demam batu akik. Demikian halnya dengan di Provinsi Bengkulu yang terkenal dengan Red Rafflesia-nya.

Kendati demikian Gubernur Bengkulu, Junaidi Hamsyah, mengimbau kepada para pengrajin batu akik agar lebih inovatif. Hal ini karena dikhawatirkan batu akik hanya menjadi trend sementara. Apabila masyarakat sudah pada titik jenuh dengan batu akik, para pengrajin malah kehilangan mata pencahariannya.

“Para pengrajin ini harus lebih inovatif. Jangan hanya buat cincin dan kalung saja. Iya kalau batu akik ini terus menjadi trend, kalau sudah tidak trend lagi bagaimana? Ini kan sepertinya hanya musiman,” ujar Junaidi, Jumat (05/05/2015).

Menurutnya, selain cincin dan kalung, para pengrajin juga bisa menyulap batu akik menjadi kerajinan lainnya seperti tasbih, keris, pajangan dinding, dan berbagai bentuk unik dan menarik. Junaidi mengaku, dirinya sendiri merupakan pecinta batu akik. Sudah ada sekitar 15 koleksi batu yang semuanya jenis batu Rafflesia. Untuk promosi ini pula, dirinya menjadikan batu akik Red Rafflesia sebagai cinderamata apabila kedatangan tamu kehormatan. Beberapa di antaranya yang sudah pernah diberikan Red Rafflesia oleh Gubernur seperti Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Ristek M. Nasir, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, serta Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

Ke depan dia berharapkan peran aktif pemerintah terkait, dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan agar cepat tanggap, terlebih dalam hal kepengurusan legalitas atau hak paten dari batu akik Rafflesia agar tidak diklaim sebagai milik daerah lain.

“Batu Rafflesia, khususnya yang Red ini harus segera dipatenkan. Kalau tidak bisa jadi daerah lain yang ngaku-ngaku. Hanya saja kendala kita, pematenan ini tak ada di pos anggaran APBD, padahal biaya mematenkan ini tidak begitu besar. Sehingga ke depan kita berharap jangan lupa ini dianggarkan lagi,”katanya.

“Saya juga berharap Disperindag gencar melakukan pelatihan kepada pengrajin agar lebih kreaif. Kita masih terlalu lamban dalam mengambil peluang. Jangan sampai kita menyia-nyiakan potensi yang ada,” demikian Junaidi. (val)