kupasbengkulu.com – Masyarakat diminta untuk tak lagi percaya mitos “banyak anak banyak rezeki” yang mana mitos ini sudah berkembang di masyarakat sejak dahulu kala.

Hal ini seperti disampaikan Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN RI, Widati, dalam acara Sosialisasi Program KKB PK, Pembinaan Kader KB, Pelayanan KB-Kesehatan Melalui KIE Kreatif Seni Budaya Tradisional Bengkulu Tahun 2016. Menurutnya mitos ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang, malahan mempersulit beban keluarga.

“Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, masih banyak masyarakat yang percaya dengan mitos banyak anak banyak rezeki. Mereka percaya mitos itu karena memang sudah dari nenek moyang meyakinkan bahwa mitos itu benar. Padahal sekarang malah kebalikannya, banyak anak menyusahkan diri,” ujarnya, Senin (21/03/2016).

Dia mengatakan program KB dengan menghimbau keluarga memiliki dua anak saja dinilai langkah yang efektif untuk menciptakan keluarga yang berkualitas. Menurutnya dengan jumlah anak yang banyak, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil akan membuat keluarga kesulitan dalam menanggung beban pendidikan, kesehatan, maupun biaya hidup sehari-hari. Efek yang lebih buruk, Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan dari keluarga tersebut bukanlah SDM yang berkualitas.

“Bagaimana negara mau maju kalau SDM-nya tidak berkualitas. Kalau kondisi ini kita biarkan, kita hanya akan terus menjadi negara berkembang, susah untuk maju bahkan turun jadi negara miskin,” katanya lagi.

Selain itu, terlalu sering melahirkan justru sangat berdampak pada kondisi kesehatan sang ibu. Oleh karena itu para tokoh agama pun seharusnya juga ikut ambil bagian dalam mensukseskan program KB ini.

“Harus diperhatikan juga dari sisi kesehatan ibu. Apa yang terjadi kalau rahim terus-menerus mengeluarkan bayi, pastinya ini tidak baik. Pentingnya kesadaran dari seluruh pihak untuk mulai memperhatikan jumlah anak,” tandasnya. (val)