IMM Minta Negara Evaluasi Total PSSI Berkaca dari Tragedi Kanjuruhan

Ketua SBO DPP IMM, Iqbal Hafsari, Foto: Dok
Ketua SBO DPP IMM, Iqbal Hafsari, Foto: Dok

Kupas News, Jakarta – Tragedi di stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur tengah dalam penanganan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dipimpin oleh menkopolhukam Mahfud MD. Kepolisian juga telah menetapkan 6 orang tersangka atas peristiwa tersebut.

Keenamnya adalah Direktur PT. Liga Indonesia Baru berinisial AHL, Ketua Panitia penyelenggara pertandingan AH, dan Security Officer Pertandingan SS. Kemudian tiga tersangka dari unsur kepolisian  yakni Kabag Ops Polres Malang Kompol WS, Komandan Kompi (Danki) Brimob Polda Jawa Timur AKP H dan Kasat Samapta Polres Malang AKP BS.

Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bidang Seni, Budaya dan Olahraga (SBO) Iqbal Hafsari menilai berjatuhannya ratusan korban dalam kejadian ini berdampak pada buramnya wajah sepak bola di tanah air. Ia menyebut Indonesia seolah gagal menuju negara industri olahraga.

“Standar industri olahraga yang layak itu terjadi jika kompetisi digelar secara profesional dan penonton mendapat pelayanan yang aman dan nyaman. Sementara standar ini tidak tampak pada penyelenggaraan sepakbola tanah air,” kata Iqbal

Ia meminta seluruh masyarakat untuk bersabar dan menghindari saling tuding hingga proses investigasi dinyatakan selesai.

“Kita percayakan karena kita semua tidak tahu keseluruhan peristiwa itu seperti apa. Artinya kita harus menghormati dan menunggu hasil tim investigasi yang dilakukan oleh tim pencari fakta,” ujarnya.

Iqbal menegaskan kejadian ini sepatutnya jadi momentum pembenahan secara menyeluruh. Bagi penonton untuk membangun persaudaraan, menghentikan permusuhan dan rivalitas yang tidak sehat. Khusus kepada PSSI agar menjadikan peristiwa ini sebagai ajang introspeksi dan perbaikan kualitas sumber daya manusia dan perbaikan kualitas tata kelola kompetisi.

Negara juga tidak boleh diam, harus ada langka komprehensif dalam membenahi tata kelola sepak bola terutama sistem keamanan dan infratruktur. Banyak stadion yang secara teknis belum bisa dikategorikan sebagai arena yang aman dan nyaman.

“PSSI harus sungguh-sungguh membenahi mentalitas supporter, medical officer, security officer, media officer, referee officer harus profesional dan tersertifikasi jangan amatiran. Setiap pertandingan harus ada Match Coordination meeting dalam mengarahkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tragedi ini benar-benar menjadi pelajaran,” tegasnya.

Iqbal menilai PSSI tidak bersungguh-sungguh menyelesaikan ‘kentalnya rivalitas’ yang tidak sehat antar klub dan seolah-olah terjadinya pembiaran. Harusnya PSSI dengan kekuatan dan otoritas yang dimiliki bisa menengahi persoalan yang ada sehingga rivalitas tidak berdampak buruk.

“DPP IMM akan serius mengawal kasus tragedi Kanjuruhan ini hingga tuntas dalam merevolusi tata kelola sepakbola bersama supporter Indonesia khususnya Aremania sehingga peristiwa tragedi ini tidak terulang kembali,” demikian Iqbal.

Reporter: Elekusman

Editor: Riki Susanto

Artikulli paraprakCongkel Pintu Dapur, Petani di Seluma Nekat Tindih Tetangga
Artikulli tjetërDi Jakarta, Warga Pasar Seluma Sampaikan Penolakan Tambang Pasir Besi