Nelayan Pasar Malabero, Kota Bengkulu

Nelayan Pasar Malabero, Kota Bengkulu

Bengkulu, kupasbengkulu.com – Presiden Joko Widodo akan tiba di Bengkulu dijadwalkan petang, Selasa (25/11/2014) setelah menggelar kunjungan di provinsi Lampung.

Jokowi dijadwalkan pada Rabu (26/11/2014) akan berdialog dengan para nelayan di Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu, lalu apa saja keluhan yang akan disampaikan para nelayan?

Rustam misalnya perwakilan nelayan Malabero mengatakan ada beberapa poin penting bagi nelayan Bengkulu yang akan mereka sampaikan pada presiden, pertama persoalan pencurian ikan yang dilakukan kapal asing dan kapal yang menggunakan trawl dan jaring setan.

“trawl ini menjadi musuh utama kami ketimbang kenaikan harga BBM, kalau kenikan BBm masih bisa kami terima namun maraknya trawl yang merusak karang dan membunuh anak-anak ikan, adalah musuh besar kami,” kata Rustam saat di temui di kampung nelayan, Senin (25/11/2014).

Ia sebutkan terdapat lebih dari 300 kapal di Bengkulu yang mengambil ikan menggunakan trawl dan jaring setan, aktifitas itu selain merusak terumbu karang dan membunuh anak ikan juga merusak rumpon yang telah dibuat para nelayan kecil itu.

Aktiftas pengambilan ikan menggunakan trawl itu marak terjadi di sekitar Pelabuhan Pulau Baai, prairan Seluma, Bengkulu Selatan dan Bengkulu Utara.

“Kami yakin kalau trawl hilang di laut Bengkulu maka kami nelayan akan sejahtera ikan akan muncul lagi,” jelasnya.

Hal yang sama juga diakui nelayan lain yakni Ucok, ia mengisahkan trawl pertama kali ada di Bengkulu sejak tahun 1986 waktu itu ada 52 kapal dari luar Bengkulu datang menangkap ikan menggunakan trawl dan ditangkap oleh neyalan setempat lalu diserahkan ke polisi.

Namun kelang satu hari penangkapan kapal trawl tersebut dilepas oleh aparat kepolisian, sejak saat itu alat tangkap yang merusak itu marak di Bengkulu. Perang besar antara nelayan kecil dan pelaku trawl pecah pada tahun 2000, beberapa kapal trawl dibakar oleh nelayan yang marah.

Pascabentrok tersebut aktifitas mengambil ikan menggunakan trawl kembali marak hingga saat ini dan pemerintah seolah tak bertindak.

Menanggapi hal ini Komandan Angkatan Laut (Lanal) Bengkulu Letkol Laut (P), Amrin Rosihan Hendrotomo dalam wawancara dengan kompas.com mengatahui aktifitas tersebut.

“Saya mengetahui informasi tersebut dari perwira intelijen kami memang marak aktifitas pengambilan trawl, mereka merupakan masyarakat nelayan Bengkulu sendiri, notebenenya nelayan kecil, jika tindakan hukum tegas kami jatuhkan tentu kasihan, maka dari itu langkah-langkah persuasif seperti diskusi dan dialog saat ini kami galakkan dengan pelaku yang mencari ikan dengan menggunakan trwal tersebut,” kata Danlanal beberapa waktu lalu.

Selain persoalan trawl para nelayan juga menyiapkan beberapa keluhan lain diantaranya meminta presiden menyediakan pelabuhan khusus nelayan di Kelurahan malabero, perumahan nelayan termasuk sertifikat bagi tanah yang saat ini mereka tempati, kesejahteraan nelayan, dan BBM bersubsidi.

Pantauan di lapangan tak ada persiapan spesial menyambut kedatangan Jokowi, petugas kelurahan setempat mengungkapkan mereka diminta untuk tidak menyiapkan tempat dialog tersebut secara berlebihan. Di lokasi itu sendiri saat ini masih seperti biasa tak ada tenda, atau umbul-umbul yang terpasang.

dikutip pula dari kompas.com