kondom

Foto ilustrasi

Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Ketua Yayasan KIPAS Bengkulu Merli Yuwanda mengatakan, menjelang pergantian tahun 2014 ke tahun 2015, permintaan kebutuhan alat kontrasepsi atau kondom di Provinsi Bengkulu diprediksi, akan meningkat terkhusus di salah satu tempat yang diduga dijadikan tempat lokalisasi di Kota Bengkulu.

Ia mengatakan, dari data KIPAS di untuk di penghujung tahun 2012 lalu permintaan alat kontrasepsi di lokalisasi permintaan alat kontrasepsi di bulan Desember mencapai 4.500 buah. Sementara di bulan Desember 2012 meningkat menjadi 6.000 buah. Namun, untuk di Desember 2014 diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 7.000 buah.

”Dari data yang kita setiap tahun, permintaan alat kontrasepsi di sana (lokalisasi) mengalami peningkatan. Di Desember ini saya rasa akan meningkat lagi, ya kira-kira mencapai 7.000 buah,”
kata Merli, saat ditemui kupasbengkulu.com, Rabu (17/12/2014).

Dari jumlah permintaan alat kontrasepsi tersebut, lanjut dia, 40 persen dari kalangan pelajar. Data tersebut, kata dia, diperoleh dari pendataan jangkauan petugas KIPAS yang melakukan terjun ke lapangan.

”40 persen permintaan dari kalangan pelajar,” imbuh Merli.

Ia menambahkan, dari Yayasan KIPAS setiap bulannya selalu memberikan alat kontrasepsi ke salah satu lokasi yang diduga tempat ‘yang tahu’ di Kota Bengkulu sebanyak 3.500 buah. Pemberian itu, disalurkan secara cuma-cuma, yang mana pemberian tersebut termasuk brosur, serta ‘pelicin’. Tidak hanya itu, tambah Merli, di lokasi ‘yang tahu’ adanya pelayanan cek kesehatan secara gratis, yang diperuntukkan yang berprilaku negatif.

Sementara, kata dia, untuk permintaan secara umum permintaan alat kontrasepsi di Provinsi Bengkulu, terbanyak di dua wilayah, yakni Kabupaten Rejang Lebong dan Kota Bengkulu, yang mana setiap bulanya permintaan mencapai 12.000 buah alat kontrasepsi.

”Kita berikan alat kontrasepsi itu khusus yang berprilaku negatif, yang mana per orangnya kita berikan lima buah alat kontrasepsi, brosur dan ‘pelicin’. Tujuan dari pemberian ini tidak lain untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit HIV/AIDS,” demikian Merli.(gie)