Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Deputi Kepala Perwakilan Keuangan Bank Indonesia Bengkulu, Christin Sidabutar, mengatakan hingga saat ini beras masih memberikan pengaruh inflasi tertinggi di Provinsi Bengkulu. Untuk mengatasi hal tersebut pihaknya beserta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se Provinsi Bengkulu akan mulai mengembangkan ubi, pisang, ganyong, dan komoditas lokal lainnya untuk mengurangi konsumsi beras di masyarakat.

“Berdasarkan identifikasi, stok gabah kita surplus, tapi berasnya defisit. Masalahnya karena masyarakat cenderung menjual gabah ke luar dikarenakan kurangnya infrastruktur untuk mengolah gabah menjadi beras,” ujar Christin, usai menggelar rapat TPID, Senin (18/05/2015).

Christin mengatakan dengan produksi beras di daerah, dapat memberdayakan petani lokal dan diupayakan pembelian dari masyarakat Provinsi Bengkulu sendiri. Dengan begitu dapat memaksimalkan serapan Bulog yang tadinya hanya 30 persen menjadi minimal 80 persen.

“Dibutuhkan sosialisasi agar kita tidak terlalu tergantung pada beras. Kalau kita anggap beras sebagai pangan utama, pergerakan beras menjadi sangat rentan karena kita terus mencari beras,” katanya.

“Kita berharap komoditas petani seperti ubi, pisang, ganyong, dan komoditas lain untuk memberdayakan petani lokal dan UMKM kita juga tetap berjalan,” lanjut Christin.

Sementara, di bidang holtikultura, masa panen yang tidak merata sepanjang tahun juga menjadi penyebab inflasi. Komoditas lain seperti daging ayam ras, cabai merah, bawang merah, serta tomat buah pun turut menjadi penyumbang inflasi daerah. (val)