adek-1
Penulis:  Ferizal Adek

Sebelum Kolonial Inggris bercokol di abad 17 Masehi di Negeri Bengkulu nama Malabro sudah terpampang, dengan masyarakat pribumi Melayu pesisirnya.

Ada juga yang berpendapat, nama itu plesetan dari nama  Fort Marlborough. Karena  ejaan dirasakan sulit menurut lidah masyarakat setempat, maka sebutan berubah menjadi Malabro. Seperti di Yogyakarta ada malioboro yang akar katanya sama dari Marlborough.’

Dalam perkembangan zaman hingga terbentuknya Provinsi Bengkulu pada tanggal 18 Nopember 1968 lepas dari Sumatera Selatan, maka daerah Malabro tetap menjadi sentral ekonomi kota Bengkulu hingga era tahun 80-an, kawasan Malabro tetap jaya dan dikenal di manca negara.

Sejarah ini tak bisa kita lupakan, karena sejarah  mencatat dan membuktikan daerah tua yang nyaris terlupakan ini. Sisa sejarah yang tampak kini seperti Masjid Malabro yang kini telah berganti nama Masjid Al- Hasyim, tempat para tokoh besar agama Bengkulu duduk bersama, mendiskusikan undang undang adat Negeri Bengkulu yang digunakan dalam masyarakat adat.

Tersingkirkan
Ironisnya zaman terus berkembang, Wilayah Malabro beransur- ansur terpinggirkan, ditinggalkan.  Gaung catatan sejarah yang ada seakan dipinggirkan, ditampikan.  bahkan  wilayah Malabro yang cukup luas dan banyak ditumbuhi pohon kelapa di pinggir pantainya, kini gersang. Masyarakat  setempatpun kinipun telah banyak bergeser kepinggiran kota lainnya.

Memang sangat disayangkan,  semuanya itu hanya tinggal cerita dan sejarah usang saja.  Oh Malabro yang  dulunya berbatas didepan gerbang Benteng Marlborough dan dibagi wilayahnya menjadi  wilayah Sumur Meleleh termasuk tiga kelurahan lainnya kini seperti Kelurahaan Kampung Cina dan Pasar Pantai.  Kini Malabero dikembalikan lagi menjadi satu seperti awalnya.

Pergeseran nilai norma dan kaedah dengan perkembangan zaman di wilayah Malabro terasa kini. Ada beberapa tradisi lama hilang, seiring hilangnya para orang-orang tua dan tokoh adat yang ada.

Tidak ada generasi muda yang melanjutkannya seperti tradisi bedendang dan tarian tari tradisional dan gotong royong tak pernah tampak lagi.

Generasi penerus Malabro baru mulai bermuculan dan kehidupan semula dari nelayan mulai ditinggalkan. Anak muda Malabro mulai mencari usaha di luar Malabro dengan berbagai profesi yang lain dari pendahulunya. Malabro kini jarang di longok.

Malabro kota tuo mungkin saja sebuah nama yang tak akan hilang di Provinsi Bengkulu, namun tidak begitu pada tradisi dan budaya masyarakat Malabro.

Trdaisi kegotong royongan akan terkikis karena faham egoisme yang menghilangkan rasa kepedulian dan kesadaran sebagai anak Malabro, ditambah akibat  tuntutan ekonomi.’

Malabro kota tua yang banyak menyimpan sejarah meskipun belum banyak yang terkuak. kepedulian generasi penerus kinilah yang seharusnya mengangkat kembali nama wilayah Malabro berjaya kembali.

Teringat kata seorang ulama, “Kalau hidup sekedar hidup, kera dihutan juga hidup. Kalau makan sekedar makan, babi di hutan juga makan”. Tapi penulis rasa anak Malabro ditidak begitu. kita berharap anak Malabro tetap mengingat dan mengangkat kembali nilai-nilai yang ada di Malabro lama.

Jangan kisah Malabro hanya  tinggal cerita yang tak berujung. Hanya tempat persinggahan, tempat  berteduh bagi keluarga yang masih berdomisili di Malabro.