oleh

Memahami Reformasi Cina yang Sukses Dikawal Deng Xiaoping

Deng Xiaoping
Deng Xiaoping

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Kompas cetak dan kompas.com beberapa tahun lalu oleh Aa Kustia mantan Duta Besar RI untuk Cina, ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari tulisan cerdas dan santun ini. Pelajaran itu dapat dipetik saat Indonesia menjelang prosesi pemilihan presiden yang akan dibentang pada 9 Juli 2014.

Indonesia tak perlu mengadopsi secara mentah reformasi Cina yang digawangi Deng Xiaoping namun setidaknya ada beberapa pelajaran berharga dari proses reformasi yang dilakukan Cina. Kita mengetahui saat itu Cina benar-benar tertutup pada dunia luar tak salah bila julukan “Negeri Tirai Bambu” disematkan akibat isolasi pada dunia.

Namun dengan segala kearifan, Cina membuka diri pada dunia namun tetap dengan tidak meninggalkan niali tradisional yang mengacu pada ajaran konfusianisme sehingga mampu beriringan antara niali tradisional dan modernisasi selamat menikmati:

Oleh: Aa Kustia

BANYAK yang heran dan kagum dengan pesatnya perkembangan dan pembangunan Republik Rakyat (Cina)RRC. Pertanyaan yang selalu munculĀ  bagaimana bisa terjadi. Padahal, pada tahun 1970-1980-an, RRC boleh dikatakan tertinggal dalam pembangunan. Bagaimana RRC melaksanakan reformasi?

Awal reformasi bergulir, Deng Xiaoping dan kawan-kawan tak memiliki rencana acuan tentang Cina yang akan dibangun. Mereka hanya memiliki hasrat besar untuk membangun RRC yang kuat dan kaya.

Ada beberapa hal menjadi kunci keberhasilan reformasi Cina: Pertama, reformasi dilakukan hati-hati, bertahap, pragmatis, penuh kesabaran. Dalam melakukan reformasi, Cina lebih dulu meletakkan “arah reformasi” dan tidak terburu-buru melihat hasil. Ini terlihat dari hasil yang baru dinikmati pada awal tahun 1990-an, padahal reformasi dimulai sejak tahun 1978. Ini sesuai pesan Deng Xiaoping, “Membangun Cina seperti menyeberangi sungai dengan merasakan bebatuan yang terinjak kaki”. Sikap pragmatis juga ditunjukkan dalam memilih orang seperti dikatakannya, “Saya tidak peduli apakah kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting kucing itu bisa menangkap tikus.”

Kedua, keberhasilan Cina juga disebabkan reformasi di bidang politik, ekonomi, budaya, dan hukum. Di bidang politik, yakni tercapainya stabilitas nasional yang penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan ekonomi dan adanya dukungan politik terhadap kepemimpinan nasional.

Keberhasilan ini dicapai karena Cina mampu menghindari benturan sejarah, dengan mengakui bahwa Cina telah tumbuh melalui tahapan: revolusi, rekonstruksi, dan reformasi. Dengan kata lain, Cina mengakui, keberhasilan hari ini tidak lepas dari modal sejarah masa lalu. Itu sebabnya Cina mampu menempatkan pemimpin-pemimpin nasionalnya pada tempat terhormat, apa pun kesalahan yang telah diperbuat karena jasa mereka tidak bisa dihilangkan oleh kesalahannya. Tidak ada kebencian dan permusuhan antargenerasi.

Rakyat Cina mengakui keberhasilan Mao Zedong memimpin Partai Komunis melawan Kuomintang dan keberhasilan memimpin perang gerilya melawan Jepang sehingga memproklamirkan berdirinya RRC, dan ini merupakan jasa terbesar. Mao dianggap telah memulihkan harga diri bangsa sehingga tidak lagi dianggap sepi dan dihina bangsa lain seperti setengah abad sebelumnya. Karena itu, keberhasilan ini tidak dapat dihapus oleh kegagalannya selama periode kedua masa hidupnya. Selain itu, ada penyadaran yang didasarkan pada pemikiran bahwa pembangunan tidak mungkin dilaksanakan tanpa stabilitas.

DALAM reformasi ekonomi, Cina tidak melakukan langkah besar-besaran dan serentak, tetapi bertahap. Reformasi ekonomi dimulai di sektor pertanian, yang berhasil meningkatkan penghasilan petani. Keberhasilan ini memperkuat posisi Deng Xiaoping untuk melangkah maju. Petani, yang berjumlah sekitar 800 juta orang dan merupakan masyarakat terbesar, ada di belakang Deng Xiaoping. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengembalikan usaha tani yang dulu dikuasai pemerintah kepada petani.

Langkah reformasi ekonomi Cina yang kedua adalah mengembangkan industri manufaktur, untuk mengembangkan dan memperluas usaha kecil menengah dan wiraswasta.

Dalam reformasi ekonomi dengan langkah besar, Cina mengikuti pola negara industri baru, yaitu memberi prioritas sektor ekonomi yang dapat menghasilkan pertumbuhan pesat tanpa intervensi pemerintah yang besar. Berikutnya adalah langkah revolusioner yang tidak lazim dalam suatu negara Komunis, yaitu membuka Cina untuk penanaman modal asing (PMA). Proyek PMA ini berhasil meningkatkan produksi dan ekspor Cina dengan amat besar dan dalam waktu relatif singkat tanpa pengeluaran dana pemerintah yang besar.

Selama tahun 2002, lebih dari 50 miliar dollar AS mengalir ke Cina. Dengan masuknya Cina ke WTO, pertumbuhan ekonomi yang cepat, pembangunan yang diharapkan berkembang di wilayah barat, serta stabilitas politik, pada pembangunan lima tahun periode 2006-2010, penanaman modal asing diharapkan mencapai 100 miliar dollar AS setiap tahun.

Reformasi ekonomi di bidang administrasi dilakukan bertahap dan berhasil mengatasi hiperinflasi dan depresiasi. Pemerintah juga mendirikan lembaga-lembaga yang memungkinkan untuk mengendalikan inflasi. Juga pembaruan sistem perbankan dan pengembangan pasar modal. Pasar obligasi didirikan untuk menyerap kelebihan yang dapat mengakibatkan inflasi. Bursa efek untuk menarik dana masyarakat guna ditanam secara produktif. Langkah-langkah strategis ini telah mendorong berkembangnya ekonomi pasar.

CINA berhasil membangun ekonominya dengan sistem mereka sendiri yang disebut Socialist Market Economy. Untuk menciptakan kondisi masyarakat yang mampu mendukung reformasi ekonomi, Cina juga melakukan reformasi budaya yang dikenal dengan “Liberalisasi Pikiran”.

Masyarakat Cina adalah masyarakat yang kokoh mempertahankan nilai-nilai tradisional, terutama pengaruh konfusianisme yang kuat dan nilai-nilai petani tradisional. Pengaruh kuat ini disebabkan rentang sejarah panjang serta Cina merupakan negara agraris, dengan petani yang mencapai hampir 80 persen dari penduduk Cina. Reformasi budaya ini dimaksud untuk menyesuaikan sisi-sisi pengaruh konfusianisme dan budaya petani tradisional yang kurang sesuai dengan semangat pembangunan Cina.

Pada satu sisi, liberalisasi pikiran menantang konsep perekonomian terencana dan terpusat yang dianggap unggul, pengendalian badan-badan usaha oleh pemerintah serta konsep sama rata yang tidak sejalan dengan konsep laba atau bisnis. Di sisi lain, liberalisasi pikiran mendorong masyarakat Cina mengaktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah sikap yang bertentangan dengan pemahaman konfusianisme yang menekankan ajaran kebersamaan. Untuk mendorong persaingan dan aktualisasi diri, Deng mengatakan “kaya adalah mulia”.

Pada sisi ketiga, liberalisasi pikiran untuk mengikis sikap petani tradisional yang umumnya cepat puas, yang berpedoman “hidup bukan untuk bekerja, tetapi bekerja untuk hidup” sehingga kerja tidak untuk mencapai prestasi.

Selain itu, yang amat penting adalah bagaimana Cina mengawal reformasi, dengan penegakan hukum yang konsisten dan keteladanan pemimpin. Presiden Jiang Zemin berkata, “Sistem negara yang kuat dan percaya diri merupakan sarana terbaik untuk mencapai hal-hal yang paling dibutuhkan Cina, yaitu supremasi hukum dan birokrasi yang efisien dan transparan.”

Hukum bukan untuk dikompromikan, tetapi dilaksanakan dengan teguh. Hukum pada hakikatnya harus dipaksakan, kesadaran baru timbul lalu akan menjadi kebiasaan. Hukum berlaku bagi semua, termasuk para pemimpinnya.

Keteladanan, ditunjukkan PM Zhu Rongji dengan kata-katanya yang terkenal saat akan dilantik menjadi Perdana Menteri pada Maret 1998, “Saya sediakan 100 peti mati, 99 untuk koruptor dan satu untuk saya, bila saya berbuat sama.”

Kini Cina sudah menjadi anggota WTO, Cina yang makin terbuka dan Cina mulai mendorong pengusahanya untuk keluar dan menanamkan usahanya di luar Cina. Untuk itu, Cina kini sedang terus melakukan reformasi hukum, untuk menyesuaikan diri sebagai pemain dunia yang terikat pada ketentuan-ketentuan dan hukum yang berlaku dan disepakati bersama. Kini Cina telah menikmati hasil reformasinya.

Sudah selesaikah semua yang dicita-citakan? Belum, masih banyak persoalan besar yang masih harus diselesaikan, termasuk kesenjangan wilayah timur dengan tengah dan barat. Memang, untuk keberhasilan sebuah reformasi, diperlukan kesatuan sikap dan pemahaman seluruh anak bangsa yang berorientasi kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan nasional daripada kepentingan perorangan atau kelompok, berpandangan jauh ke depan bukan sesaat, dan dilaksanakan dengan kesabaran.

Penulis: Aa Kustia SE, Pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Beijing

Sumber: Tulisan Ini Pernah dimuat di Kompas Cetak dan kompas.com

Rekomendasi