konstruksi rumah biday sebelum diplester

konstruksi rumah biday sebelum diplester

kupasbengkulu.com – Rumah Biday adalah rumah yang dibangun semi permanen, dinding bagian atas dibuat dari anyaman bambu sri yang dilapisi dengan semen.

Rumah Biday merupakan bentuk dari kearifan lokal masyarakat Bengkulu yang mulai berkembang pada tahun 1920 an hingga tahun 1980. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Bengkulu mulai meninggalkan Rumah Biday dengan mengganti dengan rumah modern (Berdinding Batu Bata).

“Gempa Bumi besar yang terjadi pada tahun 2000 dan tahun 2007, menjadi pembuktian dan pembelajaran bahwa rumah Biday aman dari guncangan Gempa, tidak ditemuklan adanya rumah Biday yang roboh, kerusakan hanya terjadi pada runtuhnya semen pelapis/Plaster. Pembelajaran ini menyadarkan sebagian masyarakat Bengkulu untuk kembali membangun rumah Biday, tentunya dengan modifikasi agar tidak terkesan ketinggalan Zaman,” kata Pegiat kebencanaan Bengkulu, Direktur Yayasan Layak, Agus Widianto.

Dari pengakuan warga yang membangun rumah Biday. Biaya lebih murah dibandingkan dengan rumah permanen, hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku yang cukup banyak seperti Bambu Sri, Kayu Kelas II, Pasir, Batu Kali/Gunung, Batu Bata, selian itu ongkos/biaya Tukang 30 persen lebih murah .

Rumah Biday yang telah diplester

Rumah Biday yang telah diplester

Dampak positif yang akan diperoleh jika kita dapat mendorong masyarkat mengembangkan rumah biday adalah akan terwujudnya budaya aman dari Gempa, Kebutuhan bahan baku bisa di dorong dengan melakukan budidaya Bambu dan Kayu yang sekaligus berfugsi sebagai upaya penghijauan lingkungan.

Ia tambahkan, data yang dipublikasikan banyak media mencatat, dinding-dinding rumah yang dibangun dengan konstruiksi beton, dan beton berbatu bata pada saat bencana gempa tahun 2000 dan 2007 banyak yang hancur.

Gempa tahun 2000 misalnya, menghancurkan puluhan ribu rumah masyarakat di Bengkulu dan rumah tersebut sebagian besar rumah beton bukan rumah dari kayu atau Bidai.

Sedangkan pada gempa tahun 2007 merusak 14.070 rumah dan diantara jumlah tersebut, 3.830 rumah rusak berat. Sama halnya dengan korban gempa tahun 2000, bangunan yang hancur pada tahun 2007 diatas 90 persen merupakan bangunan berkonstruksi semen dan batu bata.

Gempa tahun 2000, belum membuat masyarakat sadar untuk meninggalkan tren membangun rumah dengan konstruksi beton, sehingga mereka harus mengalami kerusakan rumah dua kali.

Namun bencana gempa tahun 2007 telah menyadarkan berberapa masyarakat setelah melihat rumah mereka yang dari beton hancur dan rumah tetangganya yang berdinding biday tetap utuh.

Berdasarkan pengalaman pahit tersebut saat ini masyarakat Bengkulu mulai menggali dan memanfaatkan tehnologi lokal yang selama ini mereka tinggalkan. Hasil study yang dilakukan oleh yayasan Layak Bengkulu pada pertengahan bulan Mei 2009 yang lalu, menunjukan bangunan yang telah dibangun puluhan tahun dengan menggunakan konstruksi Bidai tetap awet dan terhindar dari kerusakan berat saat bencana gempa tahun 2000 dan 2007.(kps)