Aktifitas Latihan Musik Dol

Aktifitas Latihan Musik Dol

Oleh: Phesi Ester Julikawati*

Dung..dung…dung…suara dol menggema di seantero Lapangan Merdeka setiap tahun Festival tabot diselenggarakan. Suaranya yang menggema dihasilkan dari hentakan dan pukulan beberapa pemuda. Menggunakan pakaian adat melayu, para anak muda ini sumringah memukul dol, biasanya mereka mengiringi para penari. Tapi tak jarang dol dimainkan sebagai pertanda dibukanya sebuah acara.

Pembukan acara terasa megah dan gempita jika diawali dengan pertunjukan dol. Musiknya yang keras menghentak memacu semangat setiap orang yang mendengarnya, membuat pembukaan acara menjadi awal yang menggairahkan.

Gairah itu tidak akan kita lihat sebelum tahun 1985, kita tidak akan melihat anak-anak muda bermandi keringat menampilkan music bersemangat itu. Karena dulunya music dol adalah music keramat, music yang hanya diperbolehkan hadir untuk ritual tabot seperti Menjara dan Meradai.

Tapi saat ini, dol bukan hanya hadir memberi suntikan adrenalin untuk masyarakat Bengkulu, tapi telah melanglang ke beberapa negeri yang ada di dunia ini. Dol telah ikut membawa nama Bengkulu dalam misi kebudayaan ke beberapa acara tingkat nasional dan internasional.

Semua ini tidak terlepas dari peran para seniman music dol yang ada di Bengkulu, juga sikap terbuka keluarga Tabot untuk melepaskan music ritualnya menjadi music tradisional kebudayaan daerah ini.

Orang yang dianggap berperan dan pencetus keluarnya music dol dari ritual tabot salah satunya seniman bernama Dindin Syarifudin.

Dindin Syarifudin tokoh musik yang memisahkan kesakralan alat musik dol dari keluarga tabot

Dindin Syarifudin tokoh musik yang memisahkan kesakralan alat musik dol dari keluarga tabot

Dol selama berabad-abad dianggap alat music sakral yang hanya dapat dimainkan pada bulan Muharam selama perayaan tabot berlangsung. Mereka yang memainkan pun bukan sembarang orang, mereka adalah keluarga tabot.

Namun seorang Dindin Syarifudin, seorang seniman asal Garut Jawa Barat melihat potensi besar dari alat perkusi tersebut. Pria kelahiran 17 juni 1952 tersebut secara halus melawan tekanan keluarga tabot dan pemerintah membawa dol keluarga dari kesakralannya.

Menurutnya sangat sayang jika alat music yang hanya ada satu-satunya di dunia tersebut hanya disimpan. Saat itu ia memiliki misi membawa dol keluarga dan menjadi icon budaya daerah ini, dan itu berhasil.

(Baca juga: Mengungkap Jejak Si Keling dan Imam Senggolo)

“Dol memiliki keanggunan sendiri, karena dari Aceh hingga Papua saya belum pernah melihat alat music serupa baik secara komposisi music maupun bentuknya, sehingga dol memilliki ciri khas tersendiri,” kata Dindin.

Dindin menceritakan sebelum tahun 1985, tidak ada orang yang berani memainkan alat music tersebut selain bulan muharam. Dindin sendiri pernah mendapatkan teguran keras dari keluarga KKT, karena memainkan dol untuk mengiring pentas tari sekitar tahun 1983.

Tekanan terhadap Dindin terus berlanjut hingga tahun 1985, ia pernah disidang oleh keluarga tabot, dan Walikota Chaerul Amri. Karena tidak mengindahkan teguran dari keluarga tabot, karena secara diam-diam Dindin menggunakan Dol yang ia pinjam dari salah seorang seniman keluarga tabot masih terus memainkan alat tersebut.

“Waktu itu saya dianggap merusak tatanan adat, dan diminta tidak lagi memainkan dol,” ceritanya.

Karena tekanan dari banyak pihak, membuat Dindin memutar otak bagaimana caranya untuk membawa alat music ini keluar dari ritual tabot. Akhirnya pada tahun 1987, pada zaman Gubernur Razie Yahya, ia diminta membuat konsep acara tabot bertaraf nasional.
Maka Dindin mengusulkan untuk meramaikan tabot, dengan menyelenggarakan festival Musik Dol. Pada saat itu hanya keluarga tabot sebagai pesertanya.

Saat itu tidak ada penolakan dari keluarga tabot, karena tabot dimainkan masih pada bulan Muharam dan keluarga tabot sendiri yang memainkannya.

“Tapi tanpa sadar, para keluarga tabot sendiri telah memainkan tabot diluar bulan Muharam, karena sebelum pentas jauh-jauh hari sebelum bulan muharam mereka sudah latihan, jika latihan otomatis dol dipukul,” kenangnya sumringah merasa menang.

Selama dua tahun, peserta tabot hanya berasal dari keluarga tabot, maka pada 1989 Dindin membuat festival lebih besar lagi dan sanggar-sanggar seni diluar kelompok tabot pun dipersilakan ikut. Pada pembukaan acara festival Dol tahun itu dibuka dengan pertunjukan dol massal yang mendapat sambutan meriah penonton.

Maka sejak saat itu tanpa masyarakat sadari tabot telah membudaya dan menjadi bagian dari seni pertunjukan hingga saat ini.

Dindin bukan hanya berhasil membawa music ini keluar dari ritual tabot tapi juga membawa tabot go internasional. Saat ini dol telah ditampilkan diberbagai acara besar di Bengkulu, dan dapat ambil bagian diberbagai kegiatan seni baik nasional maupun internasional.

Dol Kehilangan Jatidiri

Namun dibalik semua kesusksesan itu Dindin sangat menyayangkan perkembangan music ini yang ia nilai telah kebablasan. Ia menilai saat ini music dol telah kehilangan jati dirinya.
“Padahal letak keanggunan Dol itu pada keorisinalitasnya, jangan mengubah identitas Dol yang unik,” kata Dindin kecewa.

Ia menyayangkan eksplorasi oleh seniman dol yang mencampurnya dengan music Khitaro atau Barongsai, membuat ciri khas dol sendiri menghilang.

Dindin merupakan salah satu orang yang menentang eksperimen Syukri yang juga mantan penari dan pemusiknya di sanggar Artistika memainkan dol dengan cara digendong. Karena menurutnya dol telah anggun dengan semua keasliannya.

“Kalau dol banyak diubah dan dicampur dengan music lain, akan menghilangkan identitas dol sendiri, jadi apa bedanya dol dengan alat music lain,” lanjutnya.

Dindin sendiri telah dianggap tokoh seni di Bengkulu. Berbagai event seni baik tingkat nasional dan internasional, terutama kesenian daerah telah dilakoni pria yang telah memasuki masa pensiun ini.

Penampilan 150 Dol alat musik tradisional Bengkulu, Kamis (6/2/2014) memukau ribuan pengunjung pembukaan pameran pers, HPN Expo, dan pasar rakyat di kawasan sport centre Bengkulu.

Penampilan 150 Dol alat musik tradisional Bengkulu, Kamis (6/2/2014) memukau ribuan pengunjung pembukaan pameran pers, HPN Expo, dan pasar rakyat di kawasan sport centre Bengkulu.

Musik Dol pertama kali tampil tanpa tabot sekitar tahun 1985 oleh Sanggar Mayangsari asuhan Aulia. Menurut Aulia saat itu dol dipinjam oleh sanggar untuk mengiringi pergelaran tari. Karena tari yang dibawakan tari daerah Bengkulu, maka ia menilai akan lebih baik jika music yang mengiringi adalah music asli daerah juga.

Maka ia meminjam alat music dol dari keluarga tabot yang punya alat tersebut. Saat itu tidak mudah memberi pengertian kepada mereka agar dapat memainkan alat tersebut di luar ritual tabot.

“Waktu itu kita pinjam dol untuk mengiringi pentas tari, awalnya mereka sulit memberi izin, kita akhirnya memberi pengertian bahwa dol alat music asli Bengkulu, jadi sangat tepat jika mengiringi pementasan tari Bengkulu, sayang sekali jika dol hanya dikenal oleh kalangan terbatas saja, jika di bawa keluar dol akan lebih dikenal sebagai sebuah kesenian, tanpa mengurangi nilainya sebagai alat music tabot,” jelas wanita yang akrab dipanggil Oma ini.

Meski pengasuh sanggar Mayangsari berpindah tangan kesenian music Dol tetap diteruskan oleh pengasuh sanggar selanjutnya bernama Sukardi, malah ditangan Sukardi music dol lebih terkenal lagi ditengah masyarakat Bengkulu sebagai sebuah kesenian tersendiri.

Aulia yang akrab dipanggil Oma ini, sekitar tahun 1995 kembali membuka sanggar dengan nama baru Angrek Bulan. Musik dol kembali dikembangkan dengan berbagai penambahan atraksi yang menarik, hal ini mebuat anak asuhnya telah menampilkan atraksi dol diberbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Solo dan Surabaya.

Malah pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Nasional telah memasukan kesenian music dol pada mata pelajaran kesenian daerah. Hal ini mengakibatkan kelompok-kelompok music dol tumbuh di daerah ini dan rata-rata para pemainnya adalah kaum muda, yang rata-rata anak usia sekolah.

Musik dol hingga saat ini masih dimainkan oleh anak laki-laki, mengingat ukurannya yang besar dan menghasilkan suara yang bagus jika dipukul sekuat-kuatnya.

Musik dol menjadi alat music yang berbeda jika dibandingkan dengan alat perkusi lain. Karena menurut Zakaria pemilik sanggar Musik Dol Anggrek Bulan, dol dapat menghasilkan harmonisasi suara yang bagus meski tidak diiringi alat music lainya.

Sementara perkusi yang lain, biasanya sebagai alat music pendamping dari alat music lain.
Selain itu penampilan music dol menciptakan suasana menjadi lebih semarak dari suaranya yang besar dan menggema. Hal ini juga yang menjadi faktor mengapa dol dulunya digunakan untuk penyemangat di medan perang.

“Ditambah lagi penampilan music dol biasanya diselingi atraksi-atraksi menarik dari para pemainnya,” terang bapak usia lanjut ini.

Syukri Ramzan, masyarakat terutama para seniman Bengkulu mengenalnya sebagai salah satu seniman music dol Bengkulu. Saat ini ia menjadi pemilik sekaligus pelatih sanggar music Arastra. Sebelumnya ia pernah bergabung diberbagai sanggar yang ada di Bengkulu, mulai dari Mayangsari, Artistika dan saat ini membentuk sanggar sendiri bernama Arastra.

Menurut Dindin Syarifudin, salah seorang gurunya, Syukri muda pernah menjadi penari dan pemusik dol di sanggarnya. Bersama Dindin, Syukri telah melanglang berbagai daerah memperkenal music tradisonal ini.

Penasaran, kata itulah yang tepat bagi Syukri menggambarkan keinginannya bermain dol. Kala itu musik ini tidak sembarangan dapat dimainkan, kecuali dalam ritual tabot.
Namun ada momen waktu itu, sesaat sebelum ritual tabot seperti meradai, anak-anak diberikan kesempatan memukul dol menggunakan suluh-suluh (bagian batang daun kelapa kering) yang di bentuk menyerupai penabuh.

Ia sangat menantikan saat itu, meski dirinya hanya diberikan kesempatan tidak lebih lima menit untuk memukul dol. Syukri kecil pun tidak pernah melewatkan ritual tabot Meradai, meski dilarang orang tuanya, karena kegiatan tersebut dilaksanakan malam hari hingga subuh, Syukri pasti sembunyi-sembunyi kabur dari rumah, hanya untuk menyaksikan permainan music dol dalam ritual tersebut.

“Rasa penasaran itulah yang akhirnya membuat saya tertantang memainkan dan mempelajari alat musik tersebut,” cerita Syukri.

Awalnya tujuan Syukri bermain musik ini tidak lebih memuaskan rasa penasarannya menabuh alat perkusi besar tersebut. Namun semakin ia mengenal dan mencintai dol, Syukri bercita-cita mengenalkan dol bukan semata sebagai bagian ritual tabot tapi juga seni pertunjukan yang dapat dinikmati banyak orang.

Syukri menilai dol sangat unik jika dibanding dengan alat perkusi lain, karena satu-satunya alat perkusi yang tidak bolong dibagian bawahnya, dol menghasilkan komposisi suara yang lain dari yang lain.

“Belum lagi jika mendengarkan dan memainkan musik dol memacu adrenalin membuat kita bersemangat,” terang pria yang hingga saat ini masih aktif melatih kurang lebih 60 anggota sanggarnya tersebut.

Keluarga Syukri memang keluarga seniman, ayahnya merupakan pemusik kesenian Melawai. Sang ayah biasa membawakan beraneka alat music, seperti suling dan gendang. Darah seni memang mengalir dari bapak dua anak ini.

Syukri tidak pernah mengenyam pendidikan seni, semua dipelajarinya secara otodidak. Bakat alami mendorongnya pandai menciptakan komposisi music yang apik.

“Kehidupan saya juga tidak jauh dari seni, membuat saya tumbuh dalam kehidupan berkesenian, ditambah rasa ingin tahu saya juga membuat saya banyak membaca mengenai literatur music, mungkin itu yang mengambangkan bakat saya,” ungkapnya.

Meski telah lama mengenal dol, namun Syukri baru dapat mempelajari music ini sejak tahun 1985 lewat sanggar Mayangsari asuhan ibu Aulia. Meski pada masa itu music dol hanya untuk mengiring pementasan tari. Musik yang dimainkan pun masih terbatas pada tiga komposisi dasar, yaitu sweri, swena dan tamatam

Selain untuk mengiringi pementasan tari, Syukri juga tidak pernah absen tampil pada setiap acara Festival tabot yang dilaksanakan mulai 1 Muharam hingga 10 Muharam tersebut.

Apalagi menurutnya sejak tahun 1992, pemerintah daerah menyelenggarakan festival dol sebagai salah satu rangkaian acara Tabot.

Festival Musik Dol menjadi momentum penting bagi perkembangan alat music dipukul sekuat tenaga ini. Karena setiap tahun lahir komposisi-komposisi baru dalam permain music dol. Masyarakat pun semakin mengenal music ini sebagai seni pertunjukan bukan lagi music pengiring ritual tabot.

Berawal dari keinginan menampilkan dol sebagai music pertunjukan, syukri melihat dol punya potensi untuk itu. Karena sebagai sesuatu yang baru, dan satu-satunya di dunia ia menilai jika music ini di kembangkan dapat memberikan warna baru dalam dunia seni instrument.

Dol juga menghasilkan suara yang beda jika dibandingkan dengan alat music perkusi lain. Melihat itu semua, Syukri mulai mengenalkan pertujukan music dol kepada masyarakat. Awalnya melalui Festival kreasi Dol yang diadakan oleh pemerintah daerah.

Karyanya ternyata dapat diterima masyarakat, sehingga saat ini yang awalnya dol hanya memiliki tiga komposisi dasar, saat ini Syukri telah menciptakan ratusan komposisi dengan atraksi dan penambahan berbagai music pelengkap.

Kreasi pertujukan music dol, yang ditampilkan syukri tidak hanya sebatas penampilan music. Dol juga sering digunakan sebagai pengiring pementasan tari. Dol dipilih karena pada saat itu, para seniman Bengkulu yang tergabung dalam Sanggar Mayangsari melihat akan lebih baik jika tari tradisional terutama yang berasal dari Bengkulu diiringi oleh alat music yang juga berasal dari Bengkulu yakni Dol.

 

Penulis: Wartawan Tempo, Bengkulu