Kupasbengkulu.com

Asmara di Pantai Panjang

Cerpen:Benny Hakim Benardie Filosof Islam tersohor bernama Ibnu Rushd bilang: “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan

Menangiskah Gadis Bengkulu di Eropa

Cerpen: Benny Hakim Benardie “Tidurlah Amna, Dang lagi buat pekerjaan kantor. Kamu jangan ke luar pintu, nanti diganggu polisi Inggris yang lagi

Balik Ke Bengkulu

Cerpen: Benny Hakim Benardie Aroma amis ikan terasa  menyengat,  saat kereta angin  mendorat melintas  daerah Kota Tua Pasar (Marga) Bengkulu nangterlenakan. Deburan

Senja di Tapak Paderi

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie Awan kelabu tampak berarak menuju barat. Sang mentari pun sudah mulai bergerak tenggelam di ujung ufuk timur.

Cerpen: Perjuangan Ayahku

Oleh:  Benny Hakim Benardie Perjuangan seorang ayah baru disadari Abeng sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dirinya baru

Kepompong Kupu-Kupu

Cerpen: MeKaSa Bila esok hari datang kembali seperti sedia kala, dimana aku bisa tertawa lepas tanpa melihat mimpi buruk. Aku tidak ingin

Jalan Hampa

“Kita sedang menuju jalan pulang”, kata-kata yang selalu diucapkan Isan acap kali bertemu denganku di musolah, satu-satunya tempat peribadatan yang memang tak

Pasar Bengkulu Kenangan yang Terhempas

Cerpen: Benny Hakim Benardie Seorang pria setengah baya tampak berjalan berlahan memasuk perkampungan Pasar Bengkulu. Sesekali dia berhenti, dihirupnya udara khas pesisir.

Benkoelen Dalam Cerita Poyangku

Cerpen Sejarah: Benny Hakim Benardie  Pagi sabtu itu  bulan Desember 1893. Cuaca  tampaknya mulai mendung. Tapi itu tak dihiraukan  oleh para penunggang 

Lamunan di Ujung Karang

Cerpen:  Benny Hakim Benardie Fajar ini, hilang riuh candaan ala anak muda Melayu Bengkulu. Tak tampak lagi  bujang gadis hingga anak-anak yang

Kenangan di Ujung Malam

Cerpen: Benny Hakim Benardie Tak ada kata yang dapat aku terucapkan di ujung malam ini.  Angin senai-senai terus  bertiup tak henti. Seakan

Fitnah dan Jail

Cerpen: Benny Hakim BenardieLolos moderasi pada: 13 September 2018 Dinginnya malam usai hujan rintik-rintik serasa menusuk tulang. Tak satu katapun yang dapat

Cerpen : Wartawan Dalam Lamunan

“Kusangka aur (Buluh/Bambu) dipinggir Tebing.  Kiranya tebu dipinggir bibir. Kusangka jujur pancaran bathin. Rupanya palsu penghias  Zhahir”.  Syair Melayu   Ayunan  boyan-boyan

Raun Mendung ke Pulau Enggano

Laju Ojek berhenti  di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu kota. Persis setengah jam sebelum adzan Magrib  berkumandang  dari geladak Kapal Ferry KMP Pulo

No More Posts Available.

No more pages to load.