Foto Menty

kaur, kupasbengkulu.com – Terkendala biaya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tergolong mahal, para Ibu-ibu di empat Desa Ulu Tetap, yakni Desa Tanjung Agung, Babat, Kepahiyang dan Desa Tanjung Dalam lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka langsung ke Sekolah Dasar (SD).

Kehidupan di empat desa ini memang lebih tertinggal daripada di desa-desa Kecamatan Kota yakni Bintuhan, karena selain jarak tempuh menuju empat desa jauh, juga desa tersebut termasuk desa terpencil dan sangat terpencil.

Namun ketertinggalan itu berpengaruh pada aspek pendidikan, terutama Pendidikan Anak Usia Dini.

“Kami lebih memilih menyekolahkan anak langsung ke SD, karena biaya sekolah di PAUD itu mahal. Toh meskipun langsung SD anak kita masih bisa membaca dan menulis,” pungkas salah satu warga Tanjung Agung Desti (29), Senin (27/10/2014).

Dari pantauan kupasbengkulu.com, anak-anak usia dini di desa-desa tersebut tergolong banyak dan mereka setiap harinya hanya bermain-main hingga waktu umur mereka tiba untuk masuk SD, barulah mereka mengenal baca tulis dan huruf/angka dasar.

Disisi lain terlihat disetiap desa terdapat satu tempat belajar anak PAUD yang sangat sederhana, namun tidak ditempati atau dimanfaatkan untuk sarana pendidikan PAUD.

Salah satu desa yang PAUD nya masih aktif terdapat kurang lebih sepuluh anak saja yang sekolah disana, dan memang orang tuanya tergolong mampu.

“Selain masalah ekonomi alasan orang tua tidak mau menyekolahkan anaknya ke PAUD salah satunya masyarakat belum memahami pentingnya PAUD ini. Padahal PAUD sangat penting dalam mengembangkan potensi anak dengan lingkunganya. Dan membuat anak lebih cerdas dan tidak malas untuk berfikir,” ungkap salah satu guru PAUD Dasmi (30).

Oleh sebab itu beberapa tahun terakhir ia bersama rekannya tidak lagi membebani biaya sekolah anak PAUD. Dan mereka rela menjadi tenaga pendidik suka rela dalam artian tanpa di gaji.

“Kami rela mendidik anak PAUD secara gratis, asalkan mereka mau sekolah. Namun hal ini nampaknya belum ada respon dari orang tua mereka,” ujarnya.

Ditambahkannya meskipun demikian, mereka tidak akan putus asa untuk merayu orang tua anak agar mau membiarkan anak mereka untuk sekolah dan dididik di PAUD.(mty)