Minggu, Januari 16, 2022

YPIB Dorong Integritas Semangat Gotong Royong dan Pendidikan Berkarakter

Baca selanjutnya

Kupas News – Revolusi mental merupakan salah satu cara kebijakan Pemerintahan Jokowi-Maaruf dalam mengusung visi besar Indonesia Maju. Melalui Kementerian PMK visi itu diterjemahkan melalui berbagai macam cara diantaranya menggandeng komunitas dan organisasi kemasyarakatan untuk mendukung suksesi revolusi mental. Yayasan Bina Insani Persaudaraan (YBIP) adalah salah satu organisasi mitra PMK dalam mewujudkan upaya itu.

Selasa, 30 November 2021 bertempat di Splash Hotel Kota Bengkulu, YBIP menggelar seminar bertema “Gotong Royong Membangun Revolusi Mental dan Pendidikan Berkarakter Anak Bangsa Demi Terciptanya Indonesia Berkemajuan”. Seminar ini menghadirkan 3 orang narasumber yaitu; Dr. Rahiman Dani, MA Dosen Pasca Sarjana Universitas Hazairin, Nadi Hariansyah Ketua PWPM Bengkulu, dan Sutanpri, M.Pd Kepala Sekolah SMA 4 Muhammadiyah Kota Bengkulu.

“Visi besar Revolusi mental adalah tanggungjawab bersama dan kami tampil untuk mengambil tanggungjawab itu. Kami berharap melalui kegiatan ini sinergi terutama di kalangan pelajar, mahasiswa, pemuda dan masyarakat secara luas dapat terwujud dalam mendukung dan mengaplikasikan revolusi mental yang diusung pemerintah” kata Muhammad Khubbab Fairus, Ketua Yayasan Bina Insani Persaudaraan.

Revolusi Mental telah digaungkan oleh Sang Proklamator Soekarno. Ini berangkat dari kegelisahan Soekarno akan mental anak bangsa yang kian surut pasca revolusi. Untuk itulah mental anak bangsa harus senantiasa diasah agar semangat nasionalisme terus berkobar. Filosofi ini kemudian di-upgrade oleh presiden Jokowi. Semangatnya sama, agar kesadaran anak bangsa kembali pada khitahnya.

“Mental adalah modal dasar dan modal awal dalam mengusung sebuah pembangunan. Kita tahu bangsa-bangsa hebat selalu didahului dengan manusianya yang disiplin, mental mereka yang baik. Pembangunan mental akan selalu inheren dengan terwujudnya sebuah pembangunan yang sukses. Sebaliknya tidak ada pembangunan tanpa mental anak bangsa yang tertata dengan rapi. Untuk itu penting bagi kita untuk mengembalikan platform pembangunan pada penataan mental terlebih dahulu sebelum kita berbicara pembangunan fisik, budgetin, dan kebijakan,” kata Dr. Rahiman Dani.

Kemudian lanjut Rahiman, revolusi mental yang diusung pemerintah haruslah dibarengi dengan kebijakan yang akomodatif sehingga tidak bias arah. Artinya pemerintah melalui kekuasaannya harus menterjemahkan revolusi mental bukan hanya dalam tataran ide dan kampanye melainkan dalam bentuk yang lebih aplikatif seperti regulasi dan politik anggaran.

“Yang tidak kalah penting pejabat publik harus mendahului masyarakat dalam merevolusi mental dirinya sendiri, sikap dan kenegarawanan. Jangan sampai semakin keras gaung revolusi mental semakin banyak pula pejabat yang ditangkap karena korupsi. Ini akan mendegradasi semangat revolusi mental di tengah-tengah masyarakat,” papar pengampu mata kuliah ilmu politik itu.

Sementara Nadi Hariansyah dalam paparannya menekankan pada aspek pemberdayaan dan kolaborasi. Menurut aktifis muda muhammadiyah itu, peran komunitas, mahasiswa dan pelajar akan menjadi barometer visi besar revolusi mental menjadi sukses.

“Saya pikir ini bukan pekerjaan teoritis yang kemudian habis dalam ruang diskusi. Eksekusi dan aksi akan lebih penting dan pemerintah tidak mungkin kerja sendiri. Masyarakat harus ditempatkan sebagai leader, harus menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan revolusi mental,” papar dia.

Sutanpri Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu yang juga tampil sebagai pembicara dalam seminar itu mengatakan, fondasi revolusi mental adalah keluarga (orang tua) dan lingkup yang lebih luas sekolah. Selanjutnya daya dukung masyarakat dan kebijakan pemerintah sebagai regulator.

“Jauh sebelum itu sudah menerapkan filosofi dari revolusi mental. Di sekolah kami tidak ada papan merk tempat buang sampah atau waktu sholat, tempat parkir, itu sudah otomatis. Tentu kami sangat mendukung upaya pemerintah melalui Kemenko PMK menggalakan kembali revolusi mental. Konsepsinya begini, membangun sebuah gedung itu mudah tapi membangun manusia itu pekerjaan susah,” kata Sutanpri.

Reporter: Irfan Arief

- Advertisement -

Jelang HPL Terbit, Pemprov Bentuk Tim 13 Atasi Pengelolaan Pantai Panjang

Kupas News – Pasca pelaksanaan gerakan bersih Pantai Panjang Bengkulu bersama Forkopimda dan organisasi masyarakat peduli kebersihan pantai, Pemprov Bengkulu kian memantapkan langkahnya kelola...

Gubernur Rohidin Kunjungi Universitas Al Azhar Indonesia Bahas Kerja Sama

Kupas News – Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah melakukan silaturahmi ke Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta. Berbagai hal dibahas dalam lawatannya pada Kamis...

Grand Opening Kafe Harsa Eat Terobosan Menu Andalan Unik di Bengkulu

Kupas News – Sebagian besar pelaku usaha kafe berlomba-lomba mengkreasikan desain tempat usahanya untuk menarik pelanggan. Terutama bereksperimen dalam sajian menu hidangan kemudian persaingan...

TP PKK Bengkulu Panen Melon Kualitas Premium

Kupas News – Ketua TP PKK Provinsi Bengkulu Derta Wahyulin panen buah Melon kualitas premium milik Toboponik NHK Bengkulu "Ikona Melon", yang dibudidayakan pada...

Pasca Konflik Plasma, LIRA Temukan Rapor Merah PT. Pamor Ganda di Jakarta

Kupas News – Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) baru saja merilis hasil penilaian pengelolaan lingkungan hidup perusahaan di Indonesia periode Tahun 2020-2021. Penilaian...

Terbaru