kupasbengkulu.com – Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mencatat kasus DBD yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti pada tahun 2015 meningkat dua kali lipat dari tahun 2014.

Diketahui kasus DBD per 31 Desember 2015 sebanyak 872 kasus dengan kasus kematian sebanyak 13 kasus. Sementara pada 2014 hanya 464 kasus dengan korban meninggal sebanyak 13 orang.

“Kasus DBD terbanyak di Kota Bengkulu dengan 355 kasus pada 2015 dan 215 kasus pada 2014, menyusul Rejang Lebong dengan 198 kasus pada 2015, sedangkan pada 2014 hanya 77 kasus saja,” ujar Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Ahmad Yuliansyah.

Sebelumnya hingga 31 Oktober 2015 kasus DBD sebanyak 702 kasus, dengan kasus meninggal sebanyak 12 kasus. Sehingga dalam dua bulan saja, terdapat 170 kasus DBD.

“Ada tambahan satu korban meninggal dari kabupaten Seluma sehingga menjadi 5 kasus, terbanyak di daerah ini,” katanya.

Dia mengatakan pihaknya akan menyurati Bupati dan Walikota terkait peningkatan kasus DBD ini. Bupati dan walikota diminta meningkatkan kewaspadaan dini dengan melaksanakan beberapa program yang dibuat.

Surat edaran yang akan dikirimkan dalam pertengahan Januari ini ditandatangani Penjabat Gubernur Bengkulu, berisikan himbauan antara lain menghidupkan kembali program kelompok kerja operasional DBD, serta membuat gerakan satu rumah satu pemantau jentik, dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Alam (SDA).

“Peningkatan kasus DBD, selain faktor perubahan cuaca, disebabkan ada beberapa program pencegahan yang tidak lagi dilaksanakan. Program banyak untuk fooging atau pengasapan yang justru tidak menyelesaikan masalah,” tandasnya. (val)