Penampilan 150 Dol alat musik tradisional Bengkulu, Kamis (6/2/2014) memukau ribuan pengunjung pembukaan pameran pers, HPN Expo, dan pasar rakyat di kawasan sport centre Bengkulu.

Penampilan 150 Dhol alat musik tradisional Bengkulu, Kamis (6/2/2014) memukau ribuan pengunjung pembukaan pameran pers, HPN Expo, dan pasar rakyat di kawasan sport centre Bengkulu.

Bengkulu, kupasbengkulu.com – Festival Tabut merupakan perayaan yang kerap menghadirkan kerinduan tersendiri bagi warga Bengkulu baik yang tinggal di Bengkulu atau perantau.

Meski kritik muncul deras dari masyarakat dan tokoh Bengkulu terkait perayaan yang tak memuaskan hal tersebut adalah bentuk membangun bagi daerah dan wajib diapresiasi, yang dikritik tentu tak harus merasa tersakiti. Redaksi kupasbengkulu.com pada diskusi Kamisan putaran kedua kali ini, Kamis (6/11/2014), mengangkat tema “Festival Tabut Semakin Tak Berbobot”.

(berita terkait: Diskusi Kamisan: Festival Tabut Semakin Tak Berbobot)

Dalam diskusi ini kupasbengkulu.com mengundang Ketua Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) Syafril, Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, serta dua perusahaan biro jasa perjalanan wisata. Namun hanya Syafril yang datang dalam diskusi tersebut, undangan yang lain mengonfirmasi tak dapat mengikuti diskusi karena kepentingan lain.

Syafril yang merupakan keturunan dari Syekh Imam Senggolo pembawa perayaan tabut ke Bengkulu, sempat meluruskan beberapa persepsi yang salah soal kegiatan ini.

Pertama, penyebutan tabot itu salah yang benar itu tabut. “Tabot itu artinya berhala itu tak benar, yang benar itu tabut yang mengartikan kotak, ini terinspirasi dari saat Nabi Musa lahir diletakkan di kotak lalu dihanyutkan dan dirawat istri seorang raja lalim lalu kembali lagi ke orang tuanya, tabut melahirkan kasih sayang, bukan tempat penyimpanan mayat, itu tak benar,” tegas Syafril.

(Baca juga: Tabut Berdampak Investasi Ekonomi dan Diplomasi Politik Internasional).

Ini juga berlaku saat Hasan Husein cucu Rasulullah SAW tewas di Padang Karbela sejarah lahirnya tabut.

Argumen ini diperkuat dengan tulisan Thomas Arnold tentang penyebaran Agama Islam di Nusantara yang menuliskan tabut bukan tabot. Refrensi tertulis kedua yakni buku berbahasa Belanda dibuat tahun 1888 yang tersimpan di arsip internasional untuk etnografi di Leiden, Belanda.

Buku yang tak diketahui siapa penulisnya itu berjudul “Heet Hasan-Hosein-of Taboet-Fest te Benkoelen” by International Archive fur Etnographie, Leiden, Belanda. Tak diketahui secara pasti isi penuh dari buku tersebut karena dimiliki oleh kerjaan Belanda.

Kedua, Dol tertulis dhol, jika dol itu artinya “lobok” atau boneka dalam Bahasa Inggris. “Yang benar itu Dhol dalam Bahasa Urdu artinya genderang,” jelas Syafril.

Selain itu Dhol itu ditabuh bukan dipukul. “Saya banyak tak nyaman mendengar MC saat Festival Tabut menyebutkan pemkulan dhol, yang benar itu penabuhan dhol,” bebernya.

Ia berharap perlahan masyarakat Bengkulu semakin mengenal lebih dekat tabut, jika itu dianggap sebagai kekayaan milik Bengkulu.(kps)