Kapal Pancing tunda membongkar muatan ikan tongkol di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu

Kapal Pancing tunda membongkar muatan ikan tongkol di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu

Tiga kapal pancing tunda ikan tongkol merapat di Pelabuhan Pulau Baai, membongkar muatan penuh. Satu kapal berkapasitas 1,5 hingga dua ton tongkol yang tersimpan dalam fiber berisi es. Puluhan pria berbadan kekar sibuk membongkar muatan, satu tukang timbang dan seorang pengusaha tampak menunggu sambil mengunyah kudapan pagi.

Sang pengusaha ikan itu yakni Haji Sofyan Amin, menyebutkan syukur dengan hasil tangkapan hari itu.

“Sekarang musim ikan sedang baik, tangkapan mulai banyak,” ujarnya sambil mengunyah kacang tojin.

(baca juga: Keluhan Nelayan Bengkulu, Kenaikan BBM Hingga Trawl)

Ia bercerita hasil laut Bengkulu tiada batas, berlimpah, harus diimbangi dengan teknologi dan permodalan agar potensi ikan tangkap tergarap maksimal. Ia juga katakan Pelabuhan Pulau Baai dalam satu tahun mampu menghasilkan tangkapan ikan ribuan ton.

Ada empat jenis kapal yang kerap mendarat di dermaga itu, pertama jenis cincin dengan hasil tangkapan minimal 10 ton waktu operasi selama satu minggu, kedua jenis bagan dengan hasil tangkapan minimal lima ton lama operasi di laut empat hari.

Jenis ketiga yakni pancing tunda dengan minimal hasil tangjkapan satu hingga dua ton lama operasi 10 hari.

“Kalau dihitung total semua kapal di Pelabuhan Pulau Baai saja ada ratusan kapal yang menyerap ribuan tenaga kerja nelayan, kuli panggul, bongkar, dan lainnya,” beber dia.

Untuk kapal jenis pancing tunda saja per tahunnya ia mampu menjual ikan jenis tongkol tidak kurang dari 200 ton.

Koordinator Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, Artison, menyebutkan terdapat 392 kapal yang selalu sandar di pelabuhan tersebut.

“Kapal nelayan tersebut beroperasi secara aktif, memang jumlahnya masih terbilang kecil bila dibanding dengan provinsi tetangga, butuh pentaaan dan pengelolaan lebih lanjut,” papar dia.

Sejauh ini nelayan Bengkulu menurutnya masih melayani penjualan ikan hingga ke Pulau Jawa. Sementara untuk ekspor masih terbilang kecil. Ada memang katanya, beberapa jenis ikan karang yang diekspor namun masih menggunakan rute Jakarta.

“Bengkulu belum mampu mengekspor ikan karang karena keterbatasan tangkapan dan infrastruktur,” sebut pria berdarah Sunda ini.

Sementara itu Komandan Angkatan Laut Bengkulu, Letkol Laut (P) Amrin, RH. menyebutkan selama ini laut belum menjadi visi pembangunan Indonesia. Padahal bila potensi laut dikelola secara bijak maka akan banyak keuntungan yang didapat.

“Presiden Soekarno dahulu kiblatnya maritim, kekuatan Indonesia diakui di kawasan Asia Tenggara, dan Asia, saat itu Amerika segan dengan maritim kita,” ungkapnya.

Era Presiden Joko Widodo ia optimistis kelautan akan kembali berjaya, termasuk para nelayan. “Pemimpin kita masih kurang visi membangun kelautannya, sekarang TNI-AL khususnya Bengkulu, saya siap membuka diri bagi pemerintah daerah untuk membangun kekuatan ekonomi maritim,” bebernya.

Danlanal Bicara Trawl

Atas keluhan nelayan tradisional/kecil mengenai maraknya aktifitas trawl di laut Bengkulu ia ungkapkan akan mengambil tindakan persuasif.

“Saya mengetahui pelaku trawl itu adalah nelayan kecil dari Bengkulu, jika saya terapkan aturan kasihan mereka, makanya saya akan melakukan pendekatan persuasif, akan ada beberapa pertemuan yang saya gelar dengan mereka,” tegasnya.

Ia juga menekankan agar Pemda dapat mengoptimalkan kinerja dan peran TNI-AL karena menurutnya tuga TNI AL tidak hanya soal pertahanan negara namun juga ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat nelayan, sosial, ekonomi dan lainnya.

“AL, memiliki segala yang berhubungan dengan laut, jadi Pemda jangan segan untuk memberdayakan kami, mau perbaiki pelabuhan kami ada alat canggihnya, mau apa? kalau soal laut serahkan pada kami (TNI AL),” pungkasnya.(***)