IMG_0117

Bengkulu Tengah, kupasbengkulu.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi oleh pemerintah, beberapa waktu lalu telah berdampak langsung terhadap kehidupan rakyat miskin di Provinsi Bengkulu.

Seperti halnya, Pasangan Suami Istri (Pasutri), Haristan (35) dan Kismiati (40), warga Dusun I Desa Lubuk Sini, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu.

Mirisnya, setiap hari satu keluarga yang memiliki tiga orang anak ini, hanya makan pucuk ubi agar bisa bertahan hidup. Kondisi tersebut, sudah berlangsung sejak lima tahun lalu.

”Kalau lagi ada uang, maka saya beserta keluarga makan nasi. Kalau tidak ada uang untuk beli beras, terpaksa makan pucuk ubi dan terkadang kangkung yang diambil dari rawa-rawa saja. Itu kami makan tanpa nasi,” kata Haristan, saat ditemui.

Lebih menyedihkan lagi, satu keluarga ini hanya bertempat tinggal di gubuk reot yang sewaktu-waktu bisa roboh saat diterpa angin kencang. Sebab, papan yang dijadikan dinding rumah berukuran sekitar 5 meter x 5 meter itu sudah rapuh.

Bahkan, atap rumah dari seng yang dihuni keluarga ini banyak sudah berkarat dan bocor. Tidak hanya itu, seng yang menjadi atap pun hanya dilakukan penempelan atau tidak ada dipaku sama sekali.

”Bahan rumah saya ini diambil dari bekas pondok saat saya berkebun dulu. Mau beli bahan bangunan yang baru saya tidak ada uang. Jangankan mau beli barang bangunan, makan setiap hari saja saya bersama istri dan tiga anak saya saja susah sekali,” ungkap Haristan, dengan nada sedih.

Ia mengatakan, sejak dirinya tinggal di gubuk reot itu, keluarganya sama sekali belum ada menerima bantuan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Bengkulu Tengah. Baik itu, dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) hingga program pemerintah lainnya.

”Tidak ada bantuan yang saya terima,” kata suami dari Kismiati ini.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, lanjut orangtua dari Joko Sengkowo ini mengatakan, tidak ada memiliki pekerjaan tetap.

”Kalau ada yang minta bantuan seperti membersihkan kebun, ya saya lakukan. Kalau ada yang ajak bekerja bangunan ya juga ikut itu pun tidak ada setiap hari,” jelas dia.

Dari tiga orang anaknya, satu diantaranya sudah mulai mengenyam pendidikan dibangku Sekolah Dasar di Kecamatan Taba Penanjung. Hanya saja, kata dia, untuk biaya sekolah anaknya itu dicari cari kumpulan hasil buruh harian yang diperoleh.

”Biaya sekolah anak saya itu sebenarnya tidak ada dan sering kali uang SPP nya nunggak sampai beberapa bulan. Kalau uang lagi tidak ada, biasanya saya minjam dulu dengan tetangga,” pungkas Haristan didampingi sang istri Kismiati.(gie)