U

U

kupasbengkulu.com, bengkulu- Laju inflasi bulan Juli 2015 tercatat mencapai 0,93 persen atau sama dengan tingkat inflasi pada Juli 2014. Sedangkan inflasi tahun kalender Januari-Juli mencapai 1,9 persen. Sementara inflasi secara tahunan (year-on -year) sebesar 7,26 persen, ini lebih tinggi dari target inflasi tahun 2015 yang ditetapkan di angka 4 persen plus minus 1 persen.

Deputi Kepala Perwakilan Keuangan Bank Indonesia (BI) Bengkulu, Christin Sidabutar, mengatakan tingginya angka inflasi ini disebabkan Indonesia masih mengidap inflasi adaptif atau backward looking, yakni sebuah ekspektasi inflasi yang menyebabkan perubahan harga yang terjadi tergantung pada persepsi pelaku ekonomi mengenai inflasi termasuk faktor-faktor yang mempengaruhinya.

“Inflasi di Indonesia ini masih bersifat adaptif, sehingga lonjakan harga terjadi bukan karena permintaan tapi karena moment. Kita butuh atau tidak butuh dengan barang itu, kalau ada moment seperti lebaran misalnya, harga pasti naik,” ujar Christin.

Dia mengatakan hal ini memang kerap terjadi pada negara berkembang, sedangkan di negara maju masyarakatnya sudah menggunakan ekspektasi forward looking sehingga ekspektasi inflasi agen ekonomi mengacu pada target inflasi bank sentral dan upaya untuk mencapai hal tersebut.

“Dengan orientasi fordward looking, masyarakat di negara maju sudah berfikir lebih real. Saat mereka tahu inflasi lagi tinggi, mereka akan menekan belanja mereka karena sudah ada kesadaran untuk ikut mengendalikan inflasi,” katanya.

Pihaknya berharap masyarakat dapat memahami kondisi perekonomian yang sedang terjadi. Langkah yang bisa dilakukan untuk menekan lonjakan inflasi khususnya di daerah salah satunya dengan tidak bergantung pada daerah lain dan memanfaatkan produk lokal.

“Sekitar 80 persen penyumbang inflasi berasal dari daerah. Selama ini ketergantungan kita terhadap daerah lain masih tinggi. Seperti beras dan daging masih banyak diambil dari Lampung. Kita harus mulai untuk memanfaatkan lahan pekarangan, seperti program pemerintah, untuk memenuhi kebutuhan harian kita,” jelas Christin.

Meski inflasi sedang tinggi, menurut Christin pada dasarnya inflasi tidak selamanya buruk karena berguna untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan deflasi menunjukkan perekonomian melambat. Hannya saja yang harus dijaga adalah stabilitas dari inflasi tersebut. Terlebih dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dibuka akhir tahun ini, stabilitas inflasi harus benar-benar terjaga agar kita bisa bersaing dengan negara lain.

“Kalau inflasi kita tinggi, daya saing kita rendah. Menghadapi MEA kita akan rentan dan kita sulit bersaing. Kami berharap masyarakat mau ikut membantu mensukseskan program pemerintah dalam upaya menahan lonjakan inflasi agar dapat mencapai target yang diinginkan,” demikian Christin. (val)