Bupati Lebong Rosjonsyah dan istri memberikan hak suara saat Pilpres 9 Juli 2014

Bupati Lebong Rosjonsyah dan istri memberikan hak suara saat Pilpres 9 Juli 2014

Lebong, kupasbengkulu.com – Bupati terpilih, Rosjonsyah mengisahkan sejarah banyaknya waria di daerahnya disebabkan oleh sumpah leluhur masyarakat Rejang.

“Tidak ada riset ilmiah yang mengetahui apa penyebab banyaknya waria di Lebong, hanya ada legenda yang tersisa di tingkatan masyarakat Rejang,” kata Rosjonsyah saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

(Baca juga: Waria di Lebong dari Petani hingga Mantan Anggota Dewan)

Ia mengisahkan dahulu kala raja yang juga sebagai nenek moyang masyarakat Rejang diceritakan memiliki rupa yang sangat tampan, dan gagah.

Memiliki rupa yang tampan, penampilan yang gagah mengakibatkan sang raja gemar menikah dengan banyak perempuan.

“Saking gemar menikah dan memiliki banyak isteri tentu saja mengkhawatirkan tokoh adat saat itu,” ujarnya.

Lalu tokoh adat bersepakat membuat jera raja agar tidak menikah terus dengan cara meriasi seorang pemuda menjadi layaknya seorang wanita (waria).

Jebakan itu berhasil raja akhirnya menikahi waria tersebut, namun petaka timbul saat malam pertama raja mengetahui bahwa isteri baru yang ia nikahi tersebut adalah seorang pria.

“Nenek moyang akhirnya mengeluarkan sumpah bahwa anak cucunya kelak akan banyak lahir keturunan yang berpenampilan seperti waria,” kisanya.

Sumpah itu diyakini masyarakat Rejang berlaku hingga kini, ini terbukti dengan banyaknya masyarakat Lebong berpenampilan waria.

Rosjonsyah sebutkan setidaknya terdapat 800 orang lebih waria di daerah itu yang memiliki beragam profesi. Rosjonsyah membantah jika banyaknya waria di Lebong akibat pertambangan saat penjajahan.

“Sebelum ada tambang memang waria telah ada di Lebong,” kilahnya.

Ia juga mengaku sedang melakukan diskusi panjang dengan kementerian sosial agar dapat menyikapi semakin banyaknya lahir waria di daerah itu.

“Saya ingin menangani para waria berlandaskan pendekatan HAM dan tentunya tidak merugikan masyarakat umum lainnya,” demikian Rosjonyah.(***)