Wagub

Wagub Rohidin Mersyah minta uji lab diberbagai pihak.

Bengkulu, Kupasbengkulu.com – Wakil Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah menyangsikan kalau beras Seginim yang diproduksi di Kabupaten Bengkulu Selatan, mengandung zat berbahaya.

Ini seperti i yang disebutkan dalam hasil uji laboratorium sertifikasi Surabaya Jawa Tenggah beberapa waktu lalu.

Wagub Rohidin Mersyah yang berpredikat doktor pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan ini mengatakan, jika mengamati kondisi wilayah persawahan Seginim, maka potensi kemungkinan tercemarnya beras Seginim sangatlah kecil.

“Hasil ini perlu dikaji ulang, karena kalau kita amati kondisi lapangan, potensi kemungkinan tercemar kecil sekali. Dilihat dari sumber air, irigasi Seginim Bengkulu Selatan itu berasal dari kawasan hutan lindung, di hulu Kecamatan Air Nipis.

Hutan itu steril, tambang batu bara tidak ada, apalagi industri, termasuk di kawasan persawahan itu. Yang ada hanya kolam air deras tempat budi daya perikanan air tawar. Kalau dari sistem pengolahan lahan, hingga pemeliharaan itu juga standar seperti persawahan lainnya. Dengan dua kondisi ini, kecil kemungkinan produk beras Seginim ini tercemar bahan logam berat,” beber Rohidin, Kamis (17/03/2016).

Uji Lab Ulang
Sebelumnya, uji laboratorium ini dilakukan sebagai program pemerintah, dalam rangka memasarkan beras Seginim, yang mana harus melalui sertifikasi terlebih dahulu, agar bisa masuk ke pasar nasional.

Produk beras Seginim sudah sangat terkenal untuk lingkup masyarakat Bengkulu, dan hingga saat ini belum pernah ditemui dampak negatif dari mengkonsumsi beras Seginim, terutama bagi kesehatan.

“Uji lab ini harus dilakukan secara periodik dengan sample yang lebih banyak, dan dilakukan di tempat uji yang berbeda. Bukan berarti kita tidak percaya dengan hasil sementara, namun dalam kaidah melakukan tes uji bahan pangan, memang tidak bisa satu kali, tidak bisa satu sample dan harus ada tempat uji pembanding,” katanya Wagub.

Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada lembaga-lembaga yang dapat melakukan uji laboratorium, seperti BPOM, universitas, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, serta Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di Provinsi Bengkulu, juga ikut turun tangan untuk melakukan penelitian.

“Sepanjang yang kita tahu, mayoritas masyarakat Bengkulu mengkonsumsi beras Seginim sudah sejak dulu. Sayapun mengkonsumsi dari kecil. Rasanya sampai sekarang tidak ada efek negatifnya bagi kesehatan. Saya berharap ini ditangani betul. Jangan sampai hal seperti ini malah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Kalaupun memang hasilnya demikian (mengandung zat berbahaya), maka segera lakukan tindakan, cari tahu darimana asalnya,” jelas Rohidin. (val)