TEROR-BEGAL

kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Generasi muda di wilayah Lembak, Kabupaten Rejang Lebong diakui sangat rentan dengan godaan dari Minuman keras (Miras) dan ganja.

Awalnya, rata-rata remaja wilayah tersebut tertarik mencicipi atau menikmati kedua hal haram tersebut lantaran ingin coba-coba.

“Biasanya karena rasa ingin tahu, hampir seluruh teman saya dikampung pernah mencicipi itu, hanya saja ada beberapa yang cepat sadar, ada yang terjerumus,” kata Bg (21) – , seorang pemuda asal Dusun Kampung Jeruk, Desa Kepala Curup, Kecamatan Binduriang, Kabupaten Rejang Lebong pada kupasbengkulu.com.

Dari cerita Bg, diketahui bahwa ada juga beberapa teman-temannya yang berhenti menghisap ganja karena rasanya yang pahit. Begitu juga yang berhenti minum miras, karena tidak suka dengan rasanya. Namun, lebih banyak yang minum, karena ada orang yang “dituakan” diantara mereka dan memaksa minum.

“Lama-lama baru dapat ‘enaknya’ akhirnya kecanduan,” lanjut Bg.

Bg juga bercerita, ketika SMP, ia pernah ikut teman-temannya beraksi di jalan lintas Curup – Lubuklinggau. Awalnya, orang yang lewat hanya dimintai uang, sekedar untuk membeli rokok. Lama-kelamaan, setelah mendapat penadah yang bisa membeli motor dengan cepat, mereka segera beralih membegal motor.

“Motor bebek biasanya dijual Rp 800 ribuan, kalau matic dapat sejuta lebih harganya, kalau motor besar dijual sampai di atas 5 juta,” lanjut Bg.

Mitos bahwa pelaku begal memiliki tenaga dalam, kebal dan kemampuan bela diri, tidak sepenuhnya benar. Bahkan mungkin, tidak benar sama sekali.

Selain pelakunya yang masih berusia muda, rata-rata dibawah 22 tahun, modal mereka hanya keberanian dan senjata tajam.

“Keberanian itu didapat dari minum dan ganja tadi,” terang Bg.

Sementara itu, Sekretaris Persatuan Muda Lembak (PML), Badri menyatakan perlu adanya monitoring dan pendekatan dari pihak terkait terhadap pemuda Lembak.

Ia menyatakan, miras khususnya tuak dan juga ganja harus ditahan peredarannya agar tidak terus meluas di wilayah tersebut. Apalagi, lanjut Badri, jumlah pemuda Lembak yang mengonsumsi dua benda tersebut semakin meningkat jumlahnya setiap tahun.

Sebagai bukti nyata, dua kasus yang terjadi terakhir di Lembak, yakni kejadian pemerkosaan berujung pembunuhan dan juga pembegalan berujung kematian juga terjadi akibat pengaruh dari dua benda haram tersebut.

“Bila terus seperti itu, maka akan berbahaya bagi generasi muda Lembak,” kata Badri.(***)