Pabrik

bengkulu tengah, kupasbengkulu.com- Asap hitam legam seram mengepul menjilat jilat kaki awan. Pemandangan seperti itu kerap terlihat kala sebuah film action hollywood mengambil lokasi shooting di sekitar area pabrik di Amerika sana. Tapi biasanya di film tersebut dataran pabrik jauh dari pemukiman dan area pabriknya lebih luas. Kali ini pemandangannya berdampingan dengan pemukiman.

Bahkan bisa dibilang beberapa kali jungkir balik saja. Karena itulah asap hitam kerap menyenggol jemuran pakaian warga. Tak jarang pakaian yang dijemur jadi harus dicuci kembali. Meski di sekitar pemukiman warga masih cukup banyak pohon, pohon pekarangan terutama. Namun hal itu sepertinya tak begitu membantu. Awal pendirian pabrik beberapa tahun silam warga berulang kali demo, mengungkapkan wujud tak terima mereka atas efek pendirian pabrik pengolahan kelapa sawit tersebut.

Namun teriakan warga “biasa” itu tak menyurutkan rencana operasi pabrik. Desa Talang Empat, Bengkulu Tengah, kampung bagi ratusan warga yang mayoritas Suku Lembak, menjadi lokasi pilihan bagi PT Palmamas untuk mendirikan pabrik mereka. Namun agaknya pendirian pabrik tak ramah pada masyarakat ataupun lingkungan.

“Efek asap pabrik membuat tanaman bahkan jemuran menjadi hitam” keluh Rupida, salah seorang warga Talang Empat kepada jurnalis kupasbengkulu.com.
Bahasanya jelas mengungkapkan pencemaran.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Limbah Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bengkulu Tengah, Pino Aspandi,menjelaskan bahwa PT Palmamas telah lama menjadi perhatian BLH.
Menurut dia pihaknya pernah melayangkan teguran kepada pihak PT Palmamas untuk meninggikan cerobong asap pabrik. Namun teguran berulang kali tersebut agaknya tak jua dipedulikan apalagi dikerjakan.
BLH juga belum mengetahui kadar emisi gas buang, yang diduga berpengaruh besar mengganggu kesehatan masyarakat.

Bahkan menurutnya letak pabrik juga salah karena terlalu dekat dekat pemukiman masyarakat. Posisi pabrik yang berada di bagian barat desa juga turut menyumbangkan efek negatif kata Pino , karena hal ini berarti gas buang selalu menutupi desa saat pabrik beroperasi.

Jika teguran BLH tak diindahkan, lalu semua kesalahan dan efek negatif pendirian serta operasi pabrik seharusnya menjadi tanggung jawab siapa ? Entahlah, tapi jelasnya kasus semacam ini bukan pertama kali terjadi di Bengkulu Tengah.

Pembiaran satu, pembiaran dua dan seterusnya seolah memanjakan para pengusaha untuk mengabaikan lingkungan kala mereka melebarkan sayap usaha. Entahlah apakah ini sepadan dengan pendapatan asli daerah yang diperoleh dari sana.

Tapi yang jelas alam tak akan bohong, tapi haruskah korbannya lagi lagi masyarakat yang tak tahu menahu. Petir menggelegar di antara gerumul awan, asap hitam tersapa rintik hujan. Tanah mulai basah dan tergenang, jika alam menyanyi, seperti apa lagunya sekarang?(qef)