Bengkulu Selatan, kupasbengkulu.com – Eg (15) dan Ap (17) masih terbaring di rumah sakit RSUD HD Manna, akibat dipukuli oleh orang tuanya sendiri dengan menggunakan Kekuran Niugh (parutan kelapa yang tebuat dari kayu red).

Keduanya ini merupakan anak dari Mn (37), warga Desa Lawang Agung Kedurang yang tewas gantung diri menggunakan kain panjang di pohon mangga samping rumahnya, Minggu (31/5/2015) dini hari.

(Baca juga : Usai Pukuli Kedua Anak, Bapak Ini Gantung Diri di Pohon Mangga)

Saat dikunjungi kupasbengkulu.com di RSUD HD Manna Senin, (1/6/2015) akibat dipukuli ayah kandungnya dengan parutan kelapa itu, Eg dan Ap belum bisa berbicara.

Eg yang masih duduk dibangku SD kelas 1 ini mengalami luka remuk pada telinga sebelah kanan, lebam pada kepala bagian belakang, lebam pada badan bagian belakang dan patah tulang rahang sebelah kanan.

Sementara sang kakak yakni Ap, pelajar kelas 2 SMP ini juga mengalami patah tulang rusuk sebanyak tiga buah, luka remuk pada bagian belakang kepala, dan remuk lebam pada bagian badan belakangnya, akibat perbuatan ayah kandungnya tersebut.

“Sepertinya kedua anak ini mengalami trauma berat akibat kejadian tersebut, Eg dan Ap belum mau di ajak berbicara. Makan saja Eg tidak mau, kalau kakaknya, memang belum disuruh makan oleh dokter karena darah yang membeku di tubuh Ap pada bekas luka tersebut akan di buang terlebih dahulu,” kata M Saino (51) yang merupakan kakak dari istri korban Gantung tersebut.

Dituturkan M Saino, sebelumnya pihak keluarga tidak mengetahui gejala sakit yang diderita Almarhum Midian. Namun kata Saino setelah kejadian ini, Istri Almarhum yakni Miri Asni (35) baru menceritakan kalau almarhum suaminya itu mengidap penyakit cemburu yang berlebihan.

“Sudah 6 bulan terakhir ini kecemburuan almarhum terhadap istrinya itu semakin menjadi jadi,” ujar Saino.(tom)