Beranda PENDIDIKAN Hardiknas, Pelajar ‘Dikebiri’

Hardiknas, Pelajar ‘Dikebiri’

0
SDN 62 Dipagar seng
SD Negeri 62 Kota Bengkulu disegel ahli waris sejak Kamis (1/5/2015)

kupasbengkulu.com – Miris, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) hari ini, Jumat (2/5/2014) para murid SDN 62 Kota Bengkulu tidak dapat merasakan pendidikan yang seharusnya mereka terima. Pasalnya, sekolah mereka yang beralamat Jalan Rukun No.39 Sawah Lebar Baru, Kecamatan Ratu Agung itu untuk kesekian kalinya disegel oleh pihak yang mengaku ahli waris pemilik lahan.

Akibatnya, sebanyak 493 pelajar disekolah itu terpaksa mengikuti upacara peringatan Hardiknas di halaman rumah bedengan yang berlokasi di depan sekolah mereka. Karena halaman bedengan sempit, upacara dilaksanakan dengan jarak begitu rapat antara peserta upacara yang merupakan guru dan murid, pembina upacara maupun pemimpin upacara. Meski demikian pelaksanaan upacar berjalan khidmat.

“Untuk lokasi upacara ini kami sudah minta izin pada penghuni bedengan, karena jumlah murid ratusan tentu saja disekitar bedengan akan ramai. Tapi syukurlah mereka bisa mengerti dan memberikan izin kepada kami,” ungkap Kepala SDN 62, Tutik Sunarsih, S.Pd, Jumat (2/5/2014).

Tutik juga berharap, agar pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kota Bengkulu segera menyelesaikan persoalan sengketa lahan itu. Agar mereka bisa melakasanakan proses belajar-mengajar dengan normal.

“Penyegelan itu sudah 3 kali terjadi, karenanya kami mohon kepada pihak Dispendikbud untuk menyelesaikan persoalan sengketa itu. Kalau penyegelan terus terjadi, kasihan para murid,” ujarnya.

Sementara, penyegelan sekolah dilakukan pihak ahli waris atas nama Atiyah, Fisahri yang memagari sekolah dengen seng. Fisahri meyakinkan bahwa segel tersebut tidak akan dibuka, sebelum ada kejelasan dari pihak Dispendikbud mengenai ganti rugi lahan. Sebelumnya, pihak ahli waris mengajukan penawaran ganti rugi sebesar Rp 5,6 miliar untuk lahan yang ditaksir seluas 5.638 M2 yang terdiri dari lahan sekolah dan perumahan guru itu.

“Saya mengerti ini dunia pendidikan, tapi kami selaku ahli waris sudah cukup sabar memberikan toleransi. Selama ini pihak Dispendikbud terkesan mengulur waktu, bahkan sampai melakukan penyelidikan mengenai ahli waris. Kalau begini terus tidak tidak akan ada penyelesaian,” jelas Fisahri.

Ia juga menunjukkan surat dari Badan Pertanahan Nasional Kota Bengkulu dengan nomor 122/600.2-17.71/IV/2014 perihal penjelasan Sertifikat Hak Milik (SHM).

“Mau bukti seperti apa lagi, ini jelas produk BPN sebagai bukti bahwa lahan ini adalah milik ahli waris,” pungkas Fisyahri.(beb)