Amrul Eby bertopi warna oranye

Amrul Eby bertopi warna oranye

Dikatakan Eby, biasanya para peternak menggantungkan pengembangan itiknya melalui pakan buatan pabrik. Selain tidak effisien, zat-zat kimia dalam pakan tersebut malah bisa berdampak hal yang tidak diinginkan pada itik. Tidak hanya untuk klaster itik TB, tetapi juga untuk seluruh jenis itik.

“Tentunya, kedepan diharapkan agar peternak tidak tergantung pada pakan itik buatan pabrik,”jelasnya.

Diketahui, Pemprov Bengkulu memberikan bantuan berupa alat penepung, pencetak, pengaduk, alat pengering, timbangan, mein jahit karung hingga satu unit motor roda tiga dengan gerobak dibelakangnya. Hal ini ditujukan agar kelompok peternak yang mendapat bantuan dapat memproduksi sendiri pakan itik tersebut.

“Kalau bahan-bahannya, begitu mudah ditemukan, bahkan ada disekitar kita,sehingga harga produksinya menjadi lebih murah,”lanjut Eby.

Sebelumnya, satu kelompok peternak itik di Talang Benih mendapatkan bantuan berupa itik dan alat pengembang biakannya dari Bank Indonesia.

Hal ini bertujuan untuk mengembangkan klaster itik TB yang merupakan hak paten dan salah satu prduk unggulan dari kabupaten bermotto “Pat Sepakat Lemo Seperno” ini.

Kali ini, tidak hanya BI, tetapi juga Pemprov Bengkulu ikut memberi perhatian pada pengembangan klaster itik jenis ini untuk bisa diimpor keluar daerah. (vai)