U

kupasbengkulu.com, pendidikan – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bengkulu sebagai sekolah adiwiyata mandiri mengembangkan pembuatan berbagai produk berbasis lingkungan melalui mata pelajaran Kimia terapan.

Sinta Nurhaliza, siswa kelas XII IPA 2, menjelaskan beberapa produk yang telah dikembangkan antara lain pembuatan bensin dari bahan baku sampah plastik, tusuk gigi pendeteksi boraks, parfum dari ekstrak tumbuhan, penyedap makanan tanpa MSG, AC alami, dan sekam pengganti kayu bakar untuk memasak.

“Dari kelas X (sepuluh) kami sudah diajarkan untuk memanfaatkan barang-barang tak terpakai sehingga memiliki manfaat dan bernilai ekonomis,” ujar Sinta.

Dia menjelaskan, bensin yang telah mereka kembangkan dari sampah plastik hasilnya sama dengan bensin pada umumnya, baik dari warna, aroma, maupun kegunaan. Bensin ini pun telah diujikan pada kendaraan bermotor.

“Dari 3 karung sampah plastik bisa menghasilkan sekitar setengah liter bensin. Sampah ini kami kumpulkan dari bekas botol minuman, atau bekas jajanan siswa di sekolah kami,” ungkap Sinta.

Proses pembuatan bensin itu dimulai dengan memasukkan aneka sampah plastik ke dalam tabung destilasi selama 3-5 jam. Kemudian dari tabung tersebut akan mengeluarkan uap, dan dari uap itulah yang kemudian berubah menjadi bensin siap pakai.

Siswa MAN 2 Kota Bengkulu juga telah mengembangkan pembuatan tusuk gigi yang dapat mendeteksi boraks yang terkandung pada makanan. Dengan menggunakan bahan sederhana seperti kunyit dan bahan-bahan alami lainnya dilakukan proses destilasi. Kemudian hasil destilasi itu dicampur bersama tusuk gigi sehingga tusuk gigi berwarna kuning terang.

“Apabila tusuk gigi ini dimasukkan ke makanan, kemudian tusuk gigi ini berubah warna menjadi merah tua kecoklatan menandakan makanan tersebut mengandung boraks,” katanya.

Parfum yang dikembangkan siswa MAN 2 Kota Bengkulu juga terbuat dari bahan alami seperti bunga mawar, melati, kenanga, dan lainnya. Dari satu kantong besar bunga mawar bisa menghasilkan satu botol parfum ukuran kecil.

Gusman Sidik, siswa kelas XII IPA 1 menambahkan bahan yang digunakan untuk membuat parfum selain bunga adalah air, NaOH, soda api, dan soda alkohol.

“Bunga tersebut terlebih dahulu kita campur dengan air, kemudian dicampurkan bahan lain dan didestilasi sehingga menjadi parfum,” papar Gusman.

Dalam mata pelajaran Kimia terapan seminggu yang lalu, Gusman mempelajari pembuatan penyedap makanan tanpa MSG yang sekarang sudah mulai dipasarkan dengan harga Rp 1.500/ pcs. Bahan yang digunakan seperti daging ayam, bawang bombay, daun seledri, daun bawang, tomat, wortel, dan garam.

“Semua bahan itu kami blender satu persatu, kemudian dicampurkan dan diongseng. Setelah agak kering semua bahan dioven, kemudian diblender dan dioven kembali sampai menjadi bubuk,” cerita Gustam.

Menariknya, mereka juga mempelajari cara pembuatan AC alami dengan hanya menggunakan bahan es batu, kipas angin kecil, dan kotak styrofoam. Siswa MAN 2 Kota Bengkulu juga tengah mengembangkan sekam padi sebagai pengganti kayu bakar untuk memasak.

“Sekam padi kami dapatkan dari tempat penggilingan padi. Kemudian sekam padi itu ditumbuk dan dibakar. Setelah itu dibentuk menjadi bulat seperti bola. Untuk lima bola sekam bisa untuk sekali menanak nasi,” katanya.

Semua produk ini turut dipamerkan dalam acara Bengkulu Expo 2015 di alun-alun Sport Center Kota Bengkulu, di bawah pengawasan Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu.

Kepala Sekolah MAN 2 Kota Bengkulu, Miswati Natalia, mengatakan sudah puluhan produk yang diajarkan dan mulai dikembangkan oleh siswa di sekolah tersebut. Namun disayangkan produk-produk unik ini masih jarang dilombakan dan hanya mengikuti pameran saja. Pihaknya berharap ada bantuan dalam bentuk kerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk pengembangannya.

“Kita memang sering membuat produk-produk unik. Selain berbasis Kimia terapan dari siswa IPA, siswa IPS juga telah menghasilkan berbagai produk kerajinan tangan yang siap dipasarkan. Hasil karyanya tak kalah dengan yang sudah dijual di pasaran. Kami berharap ada wadah yang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas para siswa sehingga ke depan bisa bernilai ekonomis,” harapnya. (val)