Nenek

Nenek Tarjina berdagang sapu lidi hindari mengemis.

Bengkulu,  KupasBengkulu.com– Tajinah, sosok tua dengan pakaian lusuh tampak menghela nafas sembari duduk di perempatan lampu merah Pagar dewa Kota Bengkulu.

Nenek Tarjinah yang lupa tanggal lahirtnya asal Jawa Tengah menawarkan sapu lidi kepada siapa saja yang ditemuinya, dengan harga Rp7 ribu. Nenek Tarjinah yang hanya tahu berbahasa jawa dan Indonesia itu menceritakan sekilas hidupnya. Menual sapu lidi buatan suaminya ini hanya untuk mempertahankan hidup.

“Berdagang sapu lidi aja ketimbang harus menjadi seorang pengemis di lampu merah”, tuturnya

perempuan tuan ini juga menuturkan dirinya tak ingin berurusan kepada dinas sosial yang biasa menghabisi para gepeng yang meminta – minta di setiap lampu merah karena dirinya lebih terhormat menjual sapu lidi

” biarpun saya sudah tua saya tidak mau menjadi pengemis karena ditangkap dinas sosial nanti kasian dia cuma sendirian dirumah,” ujar Sang nenek.

Penghasilannya dalam sehari kata Nenek Tarjinah tidak menentu. terkadang harus pulang tanpa uang hasil dagangannya. apalagi sapu yang dibuat suaminya, relatis kurang rapih dibanding buatan pedagang lainnya. Mungkin karena usia suami yang juga sudah uzur. Jadi hasil kerajinannya tampak seadanya.

“jika seharinya saya tidak bisa pasti berapa dapat uang. Kadang – kadang ada yang beli, kadang kadang tidak sama sekali. Walaupun begitu tetap saja ada orang baik yang membeli sapu ini,” ungkap Nenek Tarjinah dengan logat Jawanya yang medok.

Nenek yang mempunyai tiga putra yang sudah dewasa, siang itu dibawah terik matahari kota Bengkulu, tampak kian lelah. Sapu Lidinya pun belum ada yang membeli.

“Saya tinggal di Pagar Dewa, anak saya juga jarang pulang,” ceroteh nenek”, beranjak pergi.

Anggi Noverdo