festival tabut 2014

festival tabut 2014

Oleh: Meiliani Sirait*

Diskusi Kamisan putaran kedua kali ini, Kamis (6/11/2014), redaksi kupasbengkulu.com mengangkat tema “Festival Tabut Semakin Tak Berbobot”.

Cukup mengenaskan memang fakta yang terjadi Festival Tabut sebuah perayaan daerah Provinsi Bengkulu yang telah diagendakan menjadi agenda budaya nasional oleh kementerian namun selalu berlangsung kurang memiliki daya dobrak, terutama bagi pengenalan Bengkulu ke pentas nasional bahkan internasional.

Festival Tabut Bengkulu 2014 baru saja ditutup kurang dari sepekan tidak ada perencanaan dan persiapan yang matang. Seperti sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) penyelenggaraan festival tabut yang diharapkan berpotensi menarik wisatawan ke Bengkulu ternyata hanya dipersiapkan selama kurang dari dua bulan.

Harapan ini dapat dikatakan sangat mustahil terwujud kalau hanya menjadi isi slogan-slogan pemerintah. Faktanya pemerintah Provinsi dan Kota Bengkulu belum serius untuk mengelola tabut dan ini menjadi inti permasalahan mengapa tabut ya begini-begini saja.

Seperti yang pernah disampaikan pihak kementerian Kebudayaan dan Pariwisata kepada KKT bahwa butuh waktu kurang lebih 1 tahun persiapan untuk menyukseskan terselenggaranya suatu festival budaya seperti tabut. Serangkaian persiapan itu dimulai dari persiapan tata acara/ pengemasan acara, persiapan lokasi festival dan promosi.

Pertama yang kita bahas adalah mengenai tata acara atau pengemasan acara, bagaimana kalender tabut tersebut dipenuhi dengan acara yang dirancang sehingga lebih menarik, padat sehingga tidak banyak kekosongan pada pertengahan hari-hari perayaan tabut namun tidak menghilangkan/ menggeser makna, esensi dari ritual tabut itu sendiri.

Disinilah diperlukan peran serta stakeholder pariwisata seperti pihak travel agent, pengusaha hotel dan mungkin juga peran publik yang lebih luas untuk mendesain acara tabut sehingga ini bukan hanya menjadi PR (pekerjaan rumah) dari KKT (Kerukunan Keluarga Tabut) dan Disparbud Kota Bengkulu.

Kedua persiapan lokasi, kita patut memberikan apresiasi terhadap pihak terkait yang melakukan pengaturan lalu lintas di lokasi festival tabut tahun ini karena jalan menuju lokasi dilapangan merdeka terlihat lebih tertib dan akses menuju lokasi festival terbilang lancar sehingga pengunjung tidak perlu berdesak-desakan.

Namun permasalahan lokasi yang satu ini mendesak untuk segera ditindaklanjuti oleh pemerintah kota Bengkulu. Pasalnya, kawasan Karabela yang menjadi lokasi ritual pembuangan tabut lahannya sudah semakin sempit. Seperti yang utarakan oleh ketua KKT, Syafril saat ini lahan tempat pembuangan tabut tersisa hanya sekitar 3000m2. Padahal kawasan Karabela yang telah di atur dalam Perda RTRW Kota Bengkulu No 14 Tahun 2012 pada pasal 43 (g) yaitu penetapan Kawasan Wisata Tabut dengan luas 3,46 Hektar di Kelurahan Kebun Tebeng Kecamatan Ratu Agung.

(baca juga:Tabut Berdampak Investasi Ekonomi dan Diplomasi Politik Internasional) 

Tentunya telah terjadi transaksi jual beli tanah dibawah tangan di kawasan Karabela ini. Untuk itu perlu segera pemerintah Kota Bengkulu menindaklanjuti masalah ini. Sebelum akhirnya lahan ini habis sama sekali. Selain itu lokasi prosesi tabut seperti Tapak Paderi hingga Hotel Nala juga perlu dibenahi lagi, atau dapat dijadikan Kampung Tabut yang nantinya dimanfaatkan menjadi lokasi home stay bagi para wisatawan dari luar Bengkulu.

Ketiga, persiapan dalam hal promosi harus dilakukan sejak jauh-jauh hari. Tujuannya adalah memberikan tenggang waktu yang cukup untuk mempromosikan hingga mendapatkan konfirmasi kembali dari pihak-pihak dari luar Bengkulu untuk akhirnya akan berwisata ke Bengkulu.

Intinya semuanya persiapan ini perlu waktu. Ketua KKT menjelaskan dalam proposal yang akan beliau sampaikan kepada kementrian terkait bahwa diperlukan dana hingga Rp 10 miliar untuk penyelenggraan festival tabut yang mampu menjangkau wisatawan domestik dan internasional. Dan diperkirakan sebesar Rp 8 miliar dari dana tersebut diperuntukkan untuk promosi di televisi nasional, ruang tunggu bandara-bandara internasional, di Jakarta, Jogja, Ngurah Rai, Bali.

Dapat kita lihat bahwa keseriusan KKT untuk menyukseskan festival tabut bukan hanya sebatas berhasil menjalankan ritual tabut, tetapi adanya tanggung jawab moral KKT untuk menjadikan festival tabut ini menjadi kemaslahatan umat. Festival tabut harus menyejahterakan masyarakat Bengkulu.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh KKT yaitu mengundang Negara Iran sejak 2008 untuk menyaksikan festival tabut. Undangan ini membuat Iran memiliki keinginan untuk membangun kawasan karabela menjadi pudat studi kebudayaan. Jika ini nantinya terwujud tentu akan memberikan dampak positif bagi kemajuan Bengkulu bukan hanya di bidang pariwisata tapi juga pendidikan. Hal ini juga membuktikan bahwa Tabut bisa/ berpotensi menarik investor asing ke Bengkulu melalui proses hubungan diplomatik .

Potensi yang sangat besar dari festival tabut ini tidak akan berwujud menjadi kemajuan dan kesejahteraan Bengkulu jika tidak ada kesolidan dari semua pihak yang telah dijelaskan diatas. Dan yang terutama adalah dari pemerintah.

(terkait: Diskusi Kamisan: Festival Tabut Semakin Tak Berbobot)

Sejak tercatat dan disahkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kemendikbu pada 13 Desember 2013, belum ada tindaklanjut dari pemerintah Bengkulu. Selama ini pemerintah provinsi juga masih menjalankan agenda festival lainnya seperti festival Pesisir, Pantai Rafflesia dalam satu tahun.

Masyarakat Bengkulu menilai festival ini kurang menarik apalagi bagi wisatawan dari luar Bengkulu. Pada akhirnya penyelenggaraan festival-festival tersebut hanya menjadi penghabisan anggaran tanpa memberikan dampak bagi kemajuan pariwisata di Bengkulu. Sebaiknya pemerintah fokus dalam membenahi tabut. Festival yang lainnya tidak perlu diselenggarakan atau dapat disatukan, sehingga tabot lebih besar. Kesimpulan besarnya adalah tabut perlu pembahasan lebih lanjut mulai dengan walikota, Gubernur Bengkulu, DPRD agar even ini dapat mendongkrak pariwisata, perekonomian dan pendidikan Bengkulu.(***)

*Pengasuh diskusi “kamisan” kupasbengkulu.com