Kaum ibu mengumpulkan bibit padi atau biasa disebut "Bayak"

Kaum ibu mengumpulkan bibit padi atau biasa disebut “Bayak”

Terik mentari menyambut siang Jumat dengan lembut. Gemericik air pengairan sawah saling sahut dengan candaan para pencabut “bayak” (sebutan untuk anak padi untuk sawah di Bengkulu Tengah) harian yang diupah Rp 25 ribu per hari.

Sementara dedaunan pisang di tepi dangau yang berada di tengah sawah tampak menikmati aroma matahari, para ibu tersebut terlihat asyik berendam di petakan sawah yang basah. Mereka duduk senyaman mungkin bersama lumpur berbauh khas tersebut sambil terus mencabut bayak lalu menyatukannya dalam ikatan. Masing masing ikatan sebesar paha orang dewasa.

“Mari dek ikut ke sini, cabut bayak,” ungkap Aina, salah satu pencabut bayak harian, menggoda kupasbengkulu.com lalu tertawa renyah disambut senyuman rekan-rekannya.

Muka mereka tertutup topi caping usang. Baju dan celana panjang bekas dan lusuh merupakan kostum turun ke sawah andalan mereka. Berharap benda benda ini dapat sedikit melindungi kulitnya.

Aina, Jayan, Rosmana dan Tati semakin memperluas cabutan mereka. Para buruh tanam yang mayoritas laki-laki setiap 10 menit bergantian mengambil ikatan anak padi tersebut untuk ditanam.

“Lumayan upahnya sehari, meskipun nilainya sama dengan seperempat kilo cabe merah. Bisa buat bantu suami mencukupi kebutuhan sehari hari” lanjut Aina sambil membetulkan letak capingnya.

Kupasbengkulu.com mencoba semakin dekat dengan Aina bersama rekannya, dengan berdiri di pematang yang basah dan sedikit rapuh di belakang mereka.

“Cari pekerjaan sekarang sulit, jangankan buat emak-emak, buat lelaki yang masih muda saja susah” Rosmana menimpali sambil melempar ikatan bayak dengan pelan.

Ya, Rosmana mungkin benar. Meskipun di Bengkulu Tengah terdapat banyak perusahaan, baik itu pertambangan, perkebunan, maupun pabrik pengolahan, namun tampaknya tak begitu berpengaruh untuk menekan angka pengangguran.

Hal ini membuktikan betapa geliat pembangunan yang digalakkan terkadang tak begitu ramah pada masyarakat lokal.

Para ibu ini masih beruntung karena masih bisa mendapatkan pekerjaan harian meski hanya untuk 2 atau 3 hari saja. Di bagian Bengkulu Tengah yang lain banyak masyarakat yang harus berkali-kali menggelar unjuk rasa pada perusahaan yang tak membayar upah mereka.

Sedikit mengulas kembali bagaimana pula kecemasan masyarakat desa terpencil Kota Niur, jika sewaktu-waktu desa mereka hilang karena aktivitas pertambangan di bawah desa. Padahal mereka tak mendapat sisihan dana sedikit saja dari aktivitas ini.

Jika ingin kembali mengingat bagaimana masyarakat pernah berseteru dengan perusahaan yang menyerobot lahan mereka rasanya begitu pilu. Pertumbuhan perusahaan yang mengakar tak menyentuh rakyat. Justru kini rakyat hanya bisa terperangah melihat hutan lindung dirambah, dikuliti, semakin luas. Demi mutiara hitam, batu bara.

Kembali ke area persawahan. Celotehan Aina membuat kupasbengkulu.com tersadar bahwa dari sudut sawah ini, cerita mereka soal rupiah hanyalah satu kuku dari sulitnya mencari nafkah di sini. Padahal kabupaten ini begitu kaya.

“Dimana tempat di sini yang bisa menampung para ibu seperti kami untuk bekerja dengan baik, susah kan dek” ia mulai berdiri.

Mulai dari mana kita harus mengoreksi semua ini. Entah apa komitmen para pencakar bumi Bengkulu Tengah dengan masyarakat dulu, tapi sekarang sepertinya mereka “tak begitu nampak” dengan jeritan masyarakat.

Entah bagaimana esok dan lusa. Tapi hari ini sawah seluas 800 meter persegi di pinggiran sungai Rinduhati Taba Penanjung masih ramah pada mereka. Pemiliknya adalah tetangga mereka sendiri. Bukan seorang pengusaha, hanya pemilik sawah yang peduli sesama.

“Ayo kita makan dulu, bapak-bapaknya sudah mau berhenti juga untuk salat Jumat” kata Tati, sang pemilik sawah yang di sambut anggukan para ibu. Mereka mulai meninggal petakan penuh lumpur tersebut, tempat dimana sisa rejeki ada hari ini.

Mereka menyambangi dangau, mengelap keringat, melepas dahaga, dan mulai membuka bekalnya.

Penulis: Evi Valendri, Kabupaten Bengkulu Tengah