illustrasi

illustrasi

Kaur, kupasbengkulu.com – Obat filariasis atau obat anti kaki gajah yang diberikan pemerintah melalui Dinas Kesehatan di Kabupaten Kaur membuat masyarakat ragu untuk mengonsumsi bahkan merasa takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pasalnya setahun yang lalu 2013 sejumlah masyarakat yang mempunyai penyakit lain merasakan ada efek samping setelah menelan obat tersebut. Karena pemberian obat ini tidak diberikan langsung oleh petugas dinas kesehatan, serta tidak ada anjuran dan larangan bagi penderita penyakit lain untuk menelan obat tersebut.

Mahda warga Bintuhan mengatakan bahwa petugas dari dari kader posyandu desanya sudah memberikan obat filariasis, namun ia enggan menelan obat tersebut dikarenakan tidak ada rincian siapa saja yang boleh menelan obat filariasis dan penderita penyakit apa saja yang dilarang mengonsumsi obat tersebut.

“Saya sudah diberi obat filariasis, namun saat ini masih saya simpan dan belum diminum, karena saya sering darah tinggi, jadi takut terjadi apa-apa ketika menelan obat tersebut. Karena tahun lalu obat ini juga dibagikan oleh pemerintah. Tapi ada beberapa warga yang merasakan efek samping seperti rbambut rontok dan lainnya, mungkin mereka punya penyakit lain,” tutur Mahda, Sabtu (06/12/2014).

Mahda menambahkaan ia mau minum obat yang diberikan secara gratis dan cuma-cuma oleh pemerintah melalui Dinkes tersebut jika petugas dinas kesehatan sendiri yang memberikan agar bisa menanyakan gejala dan penyakit apa saja yang dilardaang mengkonsumsi.

“Jika harus benar-benar sehat untuk meminum obat tersebut, saya rasa hanya sedikit saja warga yang sehat dant tidak punya gejala darah tinggi, penyakit jantung, ginjal, dan gejala lainnya,” pungkas Mahda.

Dari pantauan kupasbengkulu.com tidak hanya Mahda saja melainkan banyak warga lainnya yang belum menelan obat filariasis padahal sudah diberikan petugas, dengan alasan takut ada efek sampingnya yang bisa menimbulkan masalah atau penyakit baru. (mty)