oleh

Wow, 10 Tahun Kedepan Kota Bengkulu Diprediksi Lebih Maju dari Kota Padang

Zainal Arifin
Zainal Arifin

kupasbengkulu.com – Dalam waktu 10 tahun kedepan, Kota Bengkulu dipastikan akan lebih maju dari Kota Padang, Sumatera Barat. Yang lebih mengejutkan hal tersebut diungkapkan langsung oleh masyarakat Sumatera Barat, Zainal Arifin, seorang Koordinator S2 Antropologi, FISIP Universitas Andalas, Padang.

Zainal menjelaskan, perkembangan sebuah kota sangat dipengaruhi berbagai faktor. Banyak ahli memandang perkembangan kota akan dipengaruhi oleh letak dan posisi kota yang dianggap strategis, sehingga kota yang menjadi jalur penghubungan antar dua kota atau lebih sebagai jalur persimpangan diasumsikan akan menjadi kota yang lebih cepat berkembang.

Menurutnya pendapat tersbeut mengandung kebenaran, karena kota-kota yang yang tidak terletak di jalur persimpangan cenderung akan menjadi kota yang stagnan. Seperti kasus kota Pariaman dan Kota Painan di Sumatera Barat, kasus kota Kotabumi dan Metro di Lampung, adalah salah contoh kota-kota yang perkembangannya relatif lambat karena posisi kotanya yang dianggap tidak strategis.

Ahli lain, justru menganggap, perkembangan sebuah kota akan sangat dipengaruhi oleh perputaran ekonomi yang terjadi di wilayah tersebut. Sehingga semakin tinggi daya beli masyarakat, maka diasumsikan kota tersebut akan cepat berkembang. Pendapat ini di satu sisi juga mengandung kebenaran karena kota-kota yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah seperti perkebunan dan pertambangan, cenderung akan menjadikan kota tersebut cepat berkembang, karena daya beli masyarakat menjadi tinggi.

Kasus daerah Pasaman dan Dharmasraya di Sumatera Barat, kota Muara Enim di Sumatera Selatan, menjadi contoh kota yang cepat berkembang karena sumberdaya alamnya yang melimpah. Sehingga ekonomi masyarakat relatif meningkat yang berdampak pada daya beli masyarakat juga meningkat.

“Akan tetapi, dua pendapat itu belum mampu menjelaskan kasus kota Padang yang berada pada posisi strategis, namun relatif lambat berkembang. Pendapat tersebut juga belum mampu menjelaskan kasus Kota Bengkulu yang tidak dalam posisi strategis dan tidak memiliki sumberdaya alam yang melimpah, tetapi justru realtif cepat berkembang,” terang Zainal.

Oleh sebab itu, Zainal menyebut ada faktor lain yang mempengaruhi kemandegan dan perkembangan dua kota itu. Faktor tersebut berkaiatan dengan budaya ekonomi (budaya konsumsi). Budaya konsumsi adalah kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dan dikembangkan dalam suatu masyarakat, terkait daya beli untuk mengkonsumsi maupun untuk mendistribusikan material dan jasa ekonomi.

“Dari faktor itu, maka kita bisa mengasumsikan bahwa ada perbedaan budaya konsumsi antara Kota Padang dan kota Bengkulu, yang ikut mempengaruhi perkembangan dan kemandegan dua kota itu,”

Dosen Antropoligi itu berpendapat Kota Padang yang didominasi oleh etnis Minangkabau, sebenarnya memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi untuk membeli dan memiliki material dan jasa. Namun, masyarakat Kota Padang memiliki budaya ekonomi tawar menawar, yang cenderung memandang material dan jasa bukan sebagai sesuatu yang pasti, sehingga konsumsi material dan jasa lebih dilihat secara fungsional.

Orang Padang bukan berarti tidak menerima material dan jasa baru yang ditawarkan, tetapi kebutuhan akan material dan jasa baru ini lebih bersifat sementara yang kemudian hilang dengan sendirinya. Akibatnya, perputaran material dan jasa baru yang ditawarkan, relatif lama bertahan selama material dan jasa baru tersebut masih dipandang fungsional dengan material dan jasa yang lama. Dengan kata lain, material dan jasa yang baru tidak selalu memicu daya tarik orang Padang untuk membeli dan memilikinya, tetapi karena selalu ingin tahu, maka material dan jasa tersebut akan dinikmati sementara untuk selanjutnya kembali ke material dan jasa yang lama yang dianggap lebih fungsional.

Berbeda dengan budaya konsumsi masyarakat Kota Bengkulu, yang didominasi oleh etnis lokal dan perantauan dari Sumatera Selatan, sehingga perantauan dari etnis lain terserap dengan budaya ekonomi masyarakat lokal. Salah satu ciri budaya ekonomi orang Bengkulu adalah menempatkan material dan jasa sebagai kebutuhan dalam menguatkan identitas dan gengsi sosialnya, sehingga kebutuhan akan material dan jasa baru tersebut dianggap penting dalam kehidupan mereka.

Hal itu membuat, perputaran material dan jasa baru relatif cepat berkembang karena daya tarik masyarakatnya untuk membeli dan memiliki sangat dipengaruhi oleh upaya menunjukkan identitas dan gengsi sosial. Akhirnya masyarakat berlomba untuk meningkatkan ekonominya agar mampu memenuhi kebutuhan identitas dan gengsi sosial tersebut.
Budaya ekonomi orang Bengkulu yang demikian, membuat perputaran ekonomi di kota Bengkulu relatif lebih cepat dibandingkan kota Padang. Hal ini disebabkan karena uang bagi orang Bengkulu menjadi media untuk mendapatkan dan memiliki material dan jasa tersebut. Sementara uang bagi orang Padang cenderung menjadi simpanan atau modal untuk mendapatkan kebutuhan yang lebih fungsional.

“Contohnya, bagi orang Padang yang memiliki ponsel dengan fitur canggih akan terus dipakai selama masih bagus dan fungsional, sehingga tidak perlu ditukar dengan yang baru. Berbeda dengan orang Bengkulu, dimana ponsel dengan fitur canggih cenderung akan selalu ditukar dengan keluaran baru, karena keluaran baru berarti identitas dan gengsi sosial baru,” ungkap Zainal.

“Mengacu pada budaya konsumsi orang Padang dan orang Kota Bengkulu yang demikian, maka kita bisa prediksi bahwa 10 tahun ke depan, perkembangan Kota Bengkulu relatif akan lebih cepatdibanding Kota Padang,” tambahnya.

Budaya konsumsi masyarakat Bengkulu relatif lebih mendukung daya beli masyarakat sehingga akan mempengaruhi perkembangan kota itu sendiri. Sementara budaya konsumsi masyarakat Padang, relatif membuat perkembangan kota-nya menjadi stagnan (statis) dan tidak begitu banyak perkembangan. Prediksi tersebut dapat diamati melalui pertumbuhan toko, swalayan, maupun pusat perbelanjaan di Kota Bengkulu.(beb)

Rekomendasi