kelambu yang digunakan untuk berzikir

kelambu yang digunakan untuk berzikir

kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Tiga jemaah meninggal dalam pelaksanaan ibadah dzikir oleh tarekat Naqsabandiyah, ternyata hanya sebagian dari hal mengejutkan temuan dari tim medis pada jemaah tarekat Naqsabandiyah. Tim medis yang ditugaskan mengawas jemaah tarekat Naqsabandiyah, dr Fitri membongkar semua temuan dan aduan mengerikan dari para pasien.

Dokter Fitri menyatakan, penyaringan kesehatan atau KIR untuk jemaah selalu tidak tepat. Dengan begitu, puluhan jemaah dengan penyakit yang diderita. Akibatnya, ada banyak jemaah yang tiba-tiba terkena penyakit dan harus segera mendapat penanganan medis.

“Karena tidak ada penyaringan kesehatan atau screening disini, maka kita sering kejebolan, banyak jemaah dengan penyakit ‘bawaan’ datang kemari,”ungkap dr Fitri.

Selain itu, asupan gizi bagi para jemaah sangat jelek. Ia melihat dengan jelas para pasien hanya diberi sepiring sagon dan segelas kecil air putih. Selain air sangat terbatas, sagon juga bersifat menyerap air.
Hasilnya, jemaah banyak yang meninggal karena dehidrasi.

“Dehidrasi ada beberapa tingkatan, dari dehidrasi rendah, sedang, sampai berat, bahkan hingga shock. Permasalahannya, kalau sudah sampai dehidrasi yang menyebab shock, berarti ada kelalaian panitia,”lanjut dr Fitri.

Belum lagi, lanjut dr Fitri, sebanyak 10 orang jemaah ditemukan Buang Air Besar (BAB) darah. Hal itu, lanjut Fitri, dikarenakan tidak adanya lagi cairan dalam tubuh, hingga ketika BAB sampai berdarah. Ditambah lagi, ada 5 orang yang ditemukan memiliki gangguan ginjal. Ditambah lagi, para jemaah sangat sedikit minum air, termasuk ketika berdzikir, tidak diberi air.

“Untuk manusia setidaknya 6 gelas air sehari, ini tidak bisa ditolerir,”ungkapnya.

Hal itu belum ditambah dengan kelambu antar peserta yang begitu rapat dan tidak ditambah dengan blower atau kipas angin. Hal itu menyebabkan sirkulasi udara sangat tidak baik, juga membuat panas namun lembab. Kondisi udara seperti itu bisa berakibat buruk pada paru-paru.

Sementara itu, pengasuh tarekat naqsabandiyah, Buya Syekh Rasyidsyah Fandi menyatakan bahwa kebiasaan berbuka dengan Sagon, sedikit air dan tidak minum saat berdzikir memiliki alasan pribadi. Untuk Sagon, merupakan kebiasaan turun-temurun, atau kebiasaan silsilah.

“Sedangkan saat berdzikir memang tidak diberi air, karena itu adalah nafsu, sehingga dihindari, dalam rangka menyucikan hati,”pungkas Buya. (vai)