Seila Syafitri bayi berusia belum genap 5 bulan asal Desa Air Merah, Kecamatan Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong terindikasi menderita penyakit infeksi berat, yakni Bronkopneumenia dan sedang menjalani perawatan di RSUD Curup.

Seila Syafitri bayi berusia belum genap 5 bulan asal Desa Air Merah, Kecamatan Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong terindikasi menderita penyakit infeksi berat, yakni Bronkopneumenia dan sedang menjalani perawatan di RSUD Curup.

Kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Seila Syafitri bayi berusia belum genap 5 bulan asal Desa Air Merah, Kecamatan Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong terindikasi menderita penyakit infeksi berat, yakni Bronkopneumenia dan sedang menjalani perawatan di RSUD Curup.

Buah hati pasangan Hadison (25) dan Winda Putri (24) ini sekarang sangat membutuhkan uluran bantuan dari dermawan untuk proses penyembuhannya.
Dijelaskan oleh Pengelola Program Anak Puskesmas Talang Rimbo Lama Kecamatan Curup Tengah, Neliani Puspasari, pada hari selasa (12/1/2016) menyatakan bahwa penyakit tersebut diduga sudah diderita Seila sejak lahir. Karena orangtuanya tidak mampu sehingga Seila hanya dirawat dirumah dan hanya berobat di dukun kampung.

“Bronkopnemonia adalah salah satu penyakit infeksi terbesar, dimana 15 -20 persen dapat menyebabkan kematian pada balita,” jelasnya.

Saat ini, Seila sudah dibawa ke RSUD Curup guna mendapatkan tindakan medis lebih lanjut. Bantuan dari petugas RSUD Curup adalah memberikan bantuan oksigen dan mengambil cairan dalam paru-paru serta memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi oleh jamur atau virus tersebut.

Kondisi Seila saat ini sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dimana pasien itu juga kesulitan menerima asupan makanan dari susu tambahan karena bayinya tidak disusui ibunya. Ditambah lagi, Seila juga menderita penyakit diare sehingga berat badannya turun dan berada di bawah garis merah.

“Hal ini harus diwaspadai agar tidak menjadi gizi buruk,” tambahnya.

Informasi terhimpun, orang tua Seila Syafitri di keseharian hanya bekerja sebagai buruh tani tidak tetap dengan upah Rp40.000 per hari. Oleh karena itu, selama ini keluarganya tidak memiliki dana untuk mengobati anaknya itu dan terpaksa Berhutang.

“Kami bahkan belum membayar biaya persalinan anak kami dengan biaya sebesar Rp 1,2 juta. Bidan kami bahkan sudah mengancam akan menyita sepeda motor yang saya pinjam dari saudara saya, untuk melunasi hal tersebut,” kata Hadison, ayah Seila. (vai)