kupasbengkulu.com – Total ekspor Provinsi Bengkulu diketahui mencapai nilai sebesar US$ 8,46 juta, yang tercatat 38,12 persen di antaranya transaksi ekspor langsung melalui pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

Nilai ekspor ini mengalami penurunan sebesar 13 persen jika dibanding bulan sebelumnya November 2015 sebesar US$ 9,72 juta (month to month), dan apabila dibanding dengan Desember 2014 turun 33,30 persen atau mencapai US$ 12,68 juta (year on year).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Aden Gultom, mengatakan nilai ekspor Provinsi Bengkulu melalui pelabuhan Pulau Baai mencapai US$ 3,22 juta. Sementara melalui pelabuhan Teluk Bayur Sumatera Barat mencapai US$ 4,24 juta, melalui pelabuhan Sungai Musi/ Boom Baru Sumatera Selatan mencapai US$ 0,99 juta, dan yang melalui Kuala Namu Internasional Airport US$ 2,30 ribu.

“100 persen komoditas yang diekspor melalui pelabuhan Pulau Baai adalah batubara yang mencapai nilai US$ 3,22 juta,” kata Aden, Senin (01/02/2016).

Adapun negara tujuan ekspor terbesar Provinsi Bengkulu yakni India US$ 2,83 juta (33,41 persen), Inggris US$ 2,03 juta (24,05 persen), Philipina US$ 1,08 juta (12,76 persen), Malaysia US$ 0,86 juta (10,20 persen), Amerika Serikat US$ 0,82 juta (9,64 persen), Vietnam US$ 0,46 juta (5,48 persen), Jepang US$ 0,15 juta (1,80 persen), Brazil US$ 0,12 juta (1,45 persen), Kanada US$ 0,10 juta (1,18 persen), Taiwan US$ 0,65 ribu (0,08 persen), Singapura US$ 0,22 ribu (0,003 persen), Arab Saudi US$ 0,21 ribu (0,002 persen), Hongkong US$ 0,14 ribu (0,002 persen), Oman US$ 0,10 ribu (0,001 persen), Cina US$ 0,07 ribu (0,001 persen), dan Korea Selatan US$ 0,07 ribu (0,001 persen).

“Pada bulan Desember 2015, Provinsi Bengkulu tidak melakukan impor barang/ jasa. Sedangkan impor pada bulan November 2015 mencapai nilai sebesar US$ 0,34 juta dan pada bulan Desember 2014 mencapai US$ 1,36 juta,” ujarnya.

Aden mengatakan penurunan ini diakibatkan harga batu bara terus anjlok di pasar dunia. Menurutnya di tahun 2011 lalu harga batu bara mencapai US$ 151 per ton, sedangkan saat ini hanya US$ 45 per ton.

“Dampak inilah yang mulai terasa di Bengkulu,” tambahnya.

Dengan demikian neraca perdagangan Provinsi Bengkulu mengalami surplus sebesar US$ 8,46 juta dan neraca perdagangan dari Januari-Desember 2015 mengalami surplus sebesar US$ 148,44 juta.

Penulis: Valentina Alfarani