Lebong, kupasbengkulu.com – Kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia beberapa bulan terakhir ternyata menimbulkan permasalahan. Begitu juga Kabupaten Lebong yang juga merasakan dampak kekeringan, akibatnya tanaman jeruk gergah yang menjadi komoditas kebanggaan masyarakat Lebong saat ini mulai diserang hama semut.

Hal tersebut cukup mengkhawatirkan para petani jeruk. Mereka khawatir jika permasalahan ini tidak segera ditangani akan berakibat fatal, petani akan mengalami kerugian akibat hasil produksi jeruk menurun. Untuk itu, para petani meminta pihak terkait untuk segera menyikapi permasalahan ini.

Camat Rimbo Pegadang, Panderpin saat dikonfirmasi mengatakan, petani jeruk gergah yang dipusatkan di wilayahnya mulai mengeluhkan dampak yang ditimbulkan pada musim kekeringan sejak beberapa bulan terakhir. Musim panas yang terjadi saat ini, mulai menyerang pada tanaman Holtikultura jenis Jeruk Gergah di Lebong, terutama dampak yang dirasakan adalah serangan hama semut. Kondisi seperti ini diharapkan jangan sampai dibiarkan berlarut, karena dampaknya bagi petani sangat besar dalam hal mengancam kerugian yang besar. Selain Jeleknya pertumbuhan, juga mengancam jeleknya produktifitas buah.

“Para petani saat ini sedang dalam proses selesai tanam, jadi tanaman masih sangat rentan terhadap ancaman serangan hama semut. Apalagi sejak beberapa hari terakhir sudah mulai terdengar keluhan dari petani, tanaman Jeruk yang belum lama ini dalam proses pertumbuhan mulai diserang oleh hama semut. Hal ini kemungkinan akibat dampak kekeringan hingga semut pada keluar dan menyerang tanaman Jeruk Gergah,” ujar Panderpin.

Kemudian ia menambahkan, para petani meminta pihak terkait untuk saling berkoordinasi atas ancaman yang dapat merugikan para petani tersebut. Namun khusus untuk masalah pupuk dan kebutuhan lainnya, sejauh ini tidak ada masalah. Hanya saja masalah Semut yang sekarang harus dikomunikasikan sejak dini agar bisa segera diatasi.

“Jangan sampai hal yang terburuk dapat menimpa para petani jika masalah ini tidak segera diatasi. Mudah-mudahan penyuluh lapangan atau pihak yang membidangi sudah mengetahui kondisi ini dan segera mencari solusinya,” tutup Panderpin.(spi)