angkotttt

Pangkalan angkot di Kabupaten Bengkulu Tengah.

Bengkulu Tengah, kupasbengkulu.com – Halte di depan terminal Nakau di Desa Nakau Kecamatan Talang Empat Kabupaten Bengkulu Tengah, lengang. Tiga angkutan umum terlihat berjejer disampingnya.

Pria paruh baya bertubuh gempal terlihat duduk melepas lelah di halte. Kedua tangannya asyik mengetuk-ngetuk besi, tempat menyandar halte yang sedikit berkarat dan berwarna biru tua.

Dia adalah Rodi, salah seorang sopir Angkutan Umum, yang biasa beroperasi di jalan poros di Bengkulu Tengah. Jenis angkutan yang ia miliki, juga disebut Angkot (Angkutan Kota) meskipun beroperasi di kabupaten dan mengangkut penumpang dari desa ke desa.

“Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah hampir seminggu naik, ongkos kami naikkan. Penumpang semakin sepi,” cerita dia, sambil menggosok-gosok kakinya, Senin (24/11/2014).

Meski mencoba tersenyum, tampak jelas bias wajahnya menunjukkan kecemasan. Ia baru saja berhenti “narik” (istilah mengantar penumpang_red). Sekarang, ia sedang menunggu penumpang lagi.

Masa keemasan angkutan seperti yang ia miliki, menurutnya, nyaris berakhir. Keberadaannya terkikis oleh maraknya penggunaan kendaraan bermotor. Belum lagi mereka harus berebut penumpang dengan travel liar.

“Sampai pernah ribut sama orang travel liar di situ,” lanjut Rodi, sambil menunjukkan arah dimana ia dan teman temannya nyaris baku hantam dengan supir travel.

Kenaikan BBM kembali membuat mereka harus memutar otak, untuk tetap bertahan. Salah satunya menaikkan ongkos, namun hal ini tidaklah mudah. Banyak penumpang tak mau tahu dan tetap membayar dengan tarif lama.

Ia menuturkan tarif angkutan saat ini, untuk ongkos dari Nakau-karang tinggi dikenakan Rp 7 ribu, Nakau- Talang Empat Rp 5 ribu, Nakau- Ujung Karang: Rp 6 ribu, Nakau-Taba penanjung: Rp 9 ribu.

“Semua naik seribu dari tarif lama, itu kesepakatan kami para sopir. Kadang dalam sehari uang minyak saja tak kembali. Pendapatan paling besar Rp 50 ribu sehari,” jelas dia sembari tersenyum sambil menggeleng kepala.

Saat ditanya mengapa masih bertahan?, Rodi menyampaikan, bahwa ia tak punya pilihan lain. Angkutan yang ia miliki telah menemaninya mencari nafkah sejak tahun 1990. Ia berharap, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM tidak akan membuat angkutannya parkir selamanya.

“Kami cuma ingin penumpang kami tak lagi direbut. Kami juga rakyat kecil, harapan kami meski bbm naik, kami tetap bisa makan,” ujarnya.

Seorang calon penumpang bertanya sesuatu pada Rodi, ia pun meninggalkan percakapan dengan kupasbengkulu.com.

Penulis : Evi Valendri, Kabupaten Bengkulu Tengah.